Kenapa.. kenapa harus aku? Semua takdir yang terjadi padaku bukanlah sebuah kebetulan. bukan pula sebuah cerita yang bisa terukir indah dalam hidup. Kenyataanku tak sesuai dengan harapanku. Tak dapat kurasakan bahagia itu, tak dapat kurasakan genggaman kasih sayang seorang ayah yang kurindukan, yang kudambakan. Tak dapat ku bandingkan diriku dengan orang lain. Kenyataannya aku berbeda dengan orang lain. Begitupun dengan kehidupanku. Aku berbeda, aku tak sama dengan mereka. Namun dalam hati ini tak dapat kutahan kesedihanku saat takdir seperti ini yang harus kujalani.
“Hey, akhirnya kita lulus juga Li..” Sahut Linda menyela lamunanku.
“Iya Lin..” Singkatku.
“Kuliah dimana kamu nanti Li?”
“Gak tau lin, kayaknya disini saja.”
“Kenapa gak di luar kota? aku sih rencana di yogya Li..”
“Gak tau juga aku, masih bingung.”
Apakah aku bisa kuliah atau tidak aku pun tak tau, karena tidak ada biaya. Mamakku pasti tak sanggup membiayainya, ucapku dalam hati.
“Hey, melamun lagi. Ayo kita ke kantin temenin bayar utang-utangku sama Bu Dina.” Ucap linsa sambil merangkul bahuku dan kami pun berlalu menuju kantin.
Rasa syukur dan bahagia menyertai semua teman-temanku. Mereka sangat senang karena 3 tahun SMA yang telah dijalani akhirnya bisa lulus juga dan pasti bisa melanjutkan ke universitas yang terbaik di indonesia. Tapi untuk aku tidak. Tidak ada harapan, tidak ada kemungkinan dan mungkin tidak ada lagi peluang aku untuk bisa seperti mereka. Niatku untuk kuliah sangat kuat tapi berat rasa ini jika niat saja yang ada tapi biayanya tidak ada. Yang ku tau “uang bukanlah segalanya.. tapi segalanya butuh uang.. Allah… sakit hati ini, hati ini tak mampu bertahan ketika keinginan tak bisa kuraih.
Waktu menunjukkan jam 5 sore. Mamakku yang hanya berjualan di warung makan pulang dengan rasa lelah yang jelas terlihat di raut mukanya. Mamak setiap hari berjalan kaki untuk sampai di warung. Perjalanan yang sangat jauh yang semestinya harus menggunakan angkot tapi ia tak mau. Ia ingin hemat biaya angkot hingga ia rela jalan kaki pergi dan pulang. Miris hatiku melihanya. Namun apa dayaku aku tak bisa berbuat apapun. Aku malah memaksa ingin kuliah padahal jelas-jelas itu tak mungkin.
Malam itu mamakku berkata padaku,
“Nak kamu cari kerja yah, buat lamarannya.”
“Kok kerja? aku mau kuliah mak”
“Iya tapi kan mamak gak punya biayanya. Yah kamu sambil kerja nanti kalau bisa ya kuliah.”
“Mamak kok maksa, pokoknya aku mau kuliah. Kalau sudah bisa kuliah aku semangat mak kerja.” sambil menitikan air mata aku pun menangis. Aku langsung pergi ke kamar. Diam beribu bahasa, hanya dapat menangis dan menangis sampai akhirnya terlelap.
“Nak bangun yah nanti antar itu lamarannya. Semoga bisa masuk. mamak kerja dulu, jangan lupa ngelamar nanti.”
“Gak tau,” Jawabku masih kesal.
Yah aku pun memutuskan untuk melamar juga. Aku pergi naik angkot dan ku langsung antarkan lamaranku ke sebuah toko kue yang cukup besar. Akhirnya beberapa jam aku pun di telpon dan besok harus datang untuk interview. Malam hari aku ceritakan hal ini pada mamak ku.
“Besok ada tes mak”
“Alhamdulillah.. mamak doakan semoga diterima ya nak”
“Iya”.
Esok pun aku kesana. Aku di tes pelajaran akuntansi. Namun gagal karena aku bukan dari jurusan ips melainkan ipa. Ya aku rasa aku tidak diterima. Akhirnya aku pun pulang dengan rasa kecewa. Apalagi saat aku cerita pada mamakku bahwa aku tak bisa mengerjakan soalnya dengan baik, karena memang aku sudah lupa dengan pelajaran akuntansi saat kelas X dulu.
“Ya sudah gapapa kalau belum rezekinya. Nanti ngelamar aja ke tempat lain.” lagi lagi mamakku berusaha menenangkan aku agar tidak putus asa. Padahal aku tau dia yang paling lelah seharian kerja tapi masih tetap memberi semangat padaku. Sebenarnya aku sayang mak sama mamak.. tapi rasa sayangku tertutup oleh egoku sendiri.
Selang beberapa hari aku ditelpon kembali. Ternyata dari perusahaan toko kue itu. Dan besok masuk jam 8 memakai baju hitam putih. Ada kaget dan heran pula. namun rasa itu membuatku untuk segera kesana keesokan harinya. Tiba disana ternyata ada juga 3 orang wanita yang akan interview juga. Akhirnya kami dipanggil. Dan aku pun ditempatkan di producting sebagai perbantuan mendekor kue selama 11 hari. Yah awalnya aku ragu tapi aku yakini mungkin ini yang terbaik yang Allah berikan padaku. Lagian gajinya lumayan bisa menambah uang lebaran dan kuliah nanti, pikirku.
Akhirnya aku pun mulai kerja untuk yang pertama kalinya. Awalnya yang tak mengerti namun setelah diajarkan bisa juga. Orang-orang disana juga baik-baik, mau mengajarkan aku. Walaupun buatku terasa berat juga tapi tetap kujalani karena niatku ini. Waktu istirahat kugunakan untuk shalat di mushola tempat aku bekerja ini sambil membaca al-qur’an. Jadi walaupun bulan puasa bekerja tidak terasa berat. Aku pulang jam 4 sore. Seperti biasa pulang naik angkot. Di rumah aku selalu ngeluh sama mamakku karena aku capek kerja. Tapi mamakku selalu bilang, “Lebih capek mamak nak..”
Di situ aku berusaha gak ngeluh lagi, tegar seperti mamakku. Walaupun kadang aku bilang seperti itu lagi. Hari per hari aku lalui pekerjaan ku ini dengan tanggung jawab walaupun resikonya kadang lelah tapi aku tetap semangat. Tak cukup lama aku pun bisa mengenal teman-teman yang juga bekerja disana. Rata-rata usianya diatas aku. Aku coba untuk lebih akrab dengan mereka.
Hingga pun 11 hari tiba juga.
“Hari terakhir.. semoga berkah,” ucapku dengan langkah bismillah..
Yah hari terakhir yang memang sangat melelahkan. Banyak kue yang harus dibuat dan pastinya harus banyak tenaga yang dibutuhkan. Tapi aku yakin aku pasti bisa. Yah memang akhirnya selesai dari pagi hingga pukul 5 sore. Rasa lelah tapi seakan pudar karena hari ini dapat gaji pertamaku. Aku dipanggil ke dalam ruangan dan tanda tangan untuk menerima gaji. Alhamdulillah… gaji pertamaku berawal disini, walaupun hanya 11 hari saja kerja tapi aku bersyukur.
Selesai menerima gaji segera kita saling maafan karena esok sudah lebaran. Setelah itu aku pun pulang dengan membawa gaji pertamaku ini. Rasa bangga pasti ada. Tiba di rumah ternyata mamakku sudah menungguku. Kita langsung pergi ke toko baju untuk membeli baju lebaranku. Semua mamakku yang memilih. Aku juga membelikan mamakku dompet baru. Aku senang walau bayangan untuk kuliah masih teringat tapi aku yakin akan takdirNya pasti ada jalanNya.
Lebaran tiba. Semua umat muslim bergembira di hari nan fitri ini. Semuanya saling maaf memaafkan. Begitupun dengan keluargaku. Walau hanya ada mamakku dan kakakku tapi aku cukup senang. Aku sudah terbiasa dari umur 3 tahun tak merasakan kasih sayang seorang ayah kandung sendiri. Walaupun kini dia masih ada tapi aku tak tau entah dimana. Tak seorang pun tau. Tak ada niatku juga untuk mencarinya.
Untuk apa?
Untuk membuat luka pada mamakku lagi?
Aku tidak mau!
Tak gampang membesarkan anak sendirian, bekerja apapun demi anak. Tak gampang tapi mamakku bisa!
Dia wanita kuat, tegar, tak putus asa. Dia ibu terbaik!
Dia tak pernah malu apa yang dia kerjakan selama itu halal dan demi anaknya. Dia segalanya buat diriku walaupun terkadang aku pernah membuatnya kecewa karena sikapku.
Seiring sejalan pun cepat pula berlalu. Ingatanku terus membayangkan bisa kuliah di tahun ini.
“Mak bentar lagi pendaftaran di tutup. Aku mau daftar.” Mamakku hanya diam saja.
“Mak… aku mau kuliah aku mau daftar pokoknya.” Ucapku seakan kesal.
“Mamak tau nak.. mamak juga bingung. Kamu juga belum dapat kerja bagaimana nanti bayarnya. Mamak juga gak ada uang nak..” Ucap mamakku sambil menghela nafas.
“Coba besok mamak usaha pinjam. Siapa tau ada jalannya. Sabar ya nak..” Tambahnya sambil menghela nafas.
Aku pun langsung ke kamar, sambil menitikkan air mata. Tak kuat ku menahan asa, melihat mata mamakku tadi yang menunjukkan rasa bingung. Aku tau beliau banyak yang sedang difikirkannya. “Aku kasian mak sama mamak… tapi aku pengen kuliah juga mak…” sambil menangis dalam tidurku.
Dua hari berlalu. Aku mendapat kabar bahwa ada yang lagi butuh karyawan. Aku pun langsung menuju perusahaannya. Tiba disana aku kira hanya interview dulu, tapi tak lama kata mbak Eny langsung kerja. Dan mbak Eny yang mengajarkan aku.
“Ini nanti kamu kerjanya disini. Jadi kamu nanti call pelanggan dan isi datanya disini. Nanti kalau sudah selesai save dan kirim filenya ke aku. Besok aku update lagi datanya.” Kata mba eny sambil menjelaskan semua caranya.
“Iya mbak,” kataku sambil mengingat semua penjelasannya tadi. Terlihat jelas mbak Eny orangnya baik, tidak mudah marah. Aku pun bisa langsung mengerti dengan perkataannya. “kalau gak diangkat tulis RNA. kalau diangkat berarti called yah.”
“kalau gak aktif mba tulis apa?” tambahku memotong penjelasan mbak Eny
“mailbox saja.”
“oke mbak makasih mbak.”
“iya udah mbak tinggal dulu. Nanti kalau ada apa-apa gtalk mbak aja.” Sambil berlalu pergi.
“siip mbak.”
Bismillah… hari pertama harus bisa. Semoga hari jum’at ini penuh berkah. Aamiin.. sambil menulis status di gtalk dengan kata “semangat..!!”
Aku pun akhirnya telah terbiasa dengan pekerjaan baruku ini. Pekerjaan yang penuh resiko dan tantangan. Namun aku cukup optimis menjalankannya. Aku senang karena tidak terlalu lelah. Jam istirahat aku gunakan untuk bertemu Sang Penciptaku. Aku adukan setiap apa yang kulalui hari ini. Hal ini jauh membuatku tenang. Bisa mengadukan semua masalahku padaNya.
Hampir setiap hari aku selesaikan pekerjaanku lebih dari targetku. Sampai pun waktu istirahat aku masih sibuk dengan pekerjaanku. Hal ini membuat masalah baru untukku. Aku ditegur oleh seorang pria yang sudah senior. Mungkin beliau sudah lama bekerja disana.
“Kalau waktunya istirahat yah sudah dulu kerjanya.” Tegas, jelas ucapan Beliau sampai tidak ada yang berani berucap di ruangan itu. Semuanya diam. Begitu dengan aku yang hanya bisa menitikan air mata lagi. Sedih.. Kenapa harus seperti ini. Aku takut hal ini malah membuat masalah baru lagi.
Aku pun ceritakan masalahku ini pada mbak Eny.
“Mbak tadi aku ditegur mbak, aku disuruh istirahat tapi aku gak mau mbak. Bukannya aku nolak mbak tapi aku tadi sudah istirahat pas shalat. Aku juga malah fokus sama kerjaanku mbak. Aku tau aku salah mbak.”
“Lain kali liandra gak boleh gitu lagi yah. Niat bapak itu baik kok. Liandra juga harus lebih menghargai juga.”
“iya mbak. jadi aku ini nanti gak kerja lagi mbak?”
“haha gak lah. udah jangan di masukin hati yah.”
“gak bisa mbak. Aku takut mbak.”
“udah gakpapa lain kali jangan gitu lagi yah.”
“iya mbak makasih ya mbak.”
Ya Allah… aku takut. Semoga saja tidak apa-apa. Aku bergegas pulang dengan rasa sedih.
Semenjak kejadian itu aku lebih sering diam. Aku takut dan harus lebih hati-hati lagi. Yah semenjak dari awal kerja aku tak pernah ngobrol dengan siapapun kecuali mbak Eny. Tapi lama-lama bosan juga. Aku pun mencoba menegur teman-teman yang lain. Alhamdulillah mereka juga merespon dengan baik. Jadinya aku gak canggung lagi dengan mereka.
Malam itu aku dan mamak berbincang-bincang.
“nak mamak sudah usaha pinjam tapi gak dapat juga.” Aku pun diam.
“mamak sudah bingung. Kalau mau gadai surat rumah gak bisa juga nak.”
kembali ku terdiam. Aku diam memikirkan semua. Aku yakin aku tidak bisa kuliah. Aku juga gak tega dengan mamakku. Apakah aku harus terus-terusan memaksa mamakku? Tega kah aku membiarkan mamakku sedih dengan semua permintaanku.
Dia yang rela melakukan apapun demi aku. Bahkan sampai aku sudah lulus seperti ini tapi masih meminta padanya? Aku bingung.. semuanya tak dapat ku fikir dengan logika. Perasaanku lebih dalam dari logikaku.
“Ya sudah kalau gak kuliah gak papa.” Jawabku pelan.
“Mamak sudah usaha nak tapi ya kenyataannya begini. Gak papa ya nak, jangan kecewa, jangan putus asa. Tetap semangat kerja ya.”
Tak kujawab ucapan mamakku, aku pergi ke kamar dengan rasa sedih.
Sedih.. kecewa.. pengen teriak tapi tak bisa. Di tengah malam kupanjatkan doaku pada Allah. Aku menangis dalam setiap aduanku. Tak bisa kutahan lagi, tangisanku mengalir terus hingga aku terisak-isak.
“Ya Rabb… ikhlaskan hatiku untuk menerima ini semua. Tegarkan aku, kuatkan aku. Aku hanya bisa mengadu padaMu ya Allah.. berikan aku jalan terbaikMu. Aku yakin takdirMu lebih baik dari semuanya. Aku tak mau membuat mamakku sedih. Sudah cukup ia rasakan kepedihan selama ini. Allah… aku hidup karenaMu, aku mati pun karenaMu.. aku milikMu ya Allah…” terisak batin ini, tersedu-sedu ku meluap dalam tangisanku ini. Sakit hati ini… kembali ku menangis hingga tertidur dalam sajadahku.
Esok pun tiba. Hari dimana semua orang mulai kuliah. Kecuali aku. Hanya sampai pada tes lolos saja tapi untuk membayar biayanya tak ada. Aku mencoba tegar di hadapan semua orang. Sebelum ku pergi kerja, aku berkata pada mamakku,
“Mak aku gakpapa. Aku gak kecewa sama mamak. Aku gak kecewa sama semua orang. Aku kecewa pada diri sendiri. Mungkin ini sudah takdir Allah. Aku berusaha tetap tersenyum mak,” sambil kuteteskan air mata.
“Aku kerja aja mak. Gak usah kuliah mak. Aku…” Rasa tangis ini lagi tak tertahan lagi.
“Sudah nak jangan nangis. Mamak ngerti nak perasaanmu. Sabar nak..”
Sambil memelukku erat.
“Iya udah aku gakpapa kok mak. Sudah mak mau pergi nanti telat.” ucapku mencoba terus tegar agar mamak tak sedih juga.
“iya mamak juga mau pergi. Hati-hati ya nak. Jangan dipikirin.”
“iya..”
Sepanjang jalan di angkot ku terus melamun. Memikirkan semuanya. Dalam hati hanya berkata-kata,
“Pasti enak ya yang bisa kuliah hari ini. Tapi aku gak boleh gitu. Kan udah janji gak boleh sedih. Nanti Allah marah kalau aku gak bisa terima takdir ini. Aku bisa memotivasi orang, aku selalu memberikan semangat pada teman-temanku tapi untuk membuat diriku semangat lagi susah.. gak gampang. Tapi mulai hari ini aku ingin menulis ceritaku ini. Aku ingin jadi penulis yang bisa memberi semangat semua orang.
Yah aku mulai mengetik karyaku di hp dan lalu ku kirim di website-website khusus penulis cerpen. Tak ada komputer ataupun laptop, ku coba terus merealisasikan bakatku ini, tak mengurangi patah semangat. karena aku yakin pasti bisa kalau usaha. Bakatku menulis. Harus aku gunakan pemberian Allah ini. Pasti bermanfaat. Tiada yang sia-sia.”
Lamunku terjawab ketika tiba di kantor. Langsung ku mulai kerja. Tersadar lagi dan kuucap, “Waktu belum bisa memungkinkan aku untuk bisa kuliah tahun ini. Begitupun dengan waktu sampai saat ini, belum bisa menemukanku dengan seorang Ayahku sendiri. Mungkin perlu waktu kembali untuk merubah semuanya. Tapi dalam relung hati yang terdalam ini.. aku masih menunggumu ayah. Menunggu kasih sayangmu yang hilang bertahun-tahun, yang tak pernah aku rasakan sedikit pun. Tapi sampai kapan? Akankah semua ini terjawab? Ya Allah… semuanya aku pasrahkan padaMu.” lagi dan lagi aku terhanyut dalam kesedihan. ah sudah aku gak boleh cengeng. Aku harus bisa bangkit. Harus bisa! bismillah…
Di setiap sela-sela pekerjaanku, aku memulai menulis karya-karyaku.. Berharap suatu hari nanti bisa menjadikan takdir ini berubah menjadi lebih baik lagi. Kesibukanku kini ku lewati agar aku tak merasakan kecewa lagi. Hari-hari kini kulalui. Walau kadang sedih menerpa tapi tetap ku berjuang demi sosok seorang ibu. Dan kini aku lewati semua sampai waktu itu tiba… sampai kepastian itu datang… dan sampai semua orang bahagia karena aku…
Cerpen Karangan: Liya Utari
Facebook: liya_2nl.quetz@[-at-]yahoo.co.id / ‘liiya ‘ernnur’
Nama saya Liya Utari
Saya lahir di Surabaya, 17 September 1995
Saya tinggal di Balikpapan, Kaltim
Hobi saya menulis
email fb liya_2nl.quetz[-at-]yahoo.co.id / ‘liiya ‘ernnur’
email liyaernnur[-at-]gmail.com
Cita-cita ingin menjadi penulis yang mampu memotivasi semua orang, yang dapat memberi manfaat bagi semuanya..
Saya anak ke 2 dari 2 saudara
Saya suka memberi motivasi semangat kepada teman-teman dan saya juga senang belajar agama Islam lebih dalam
Semoga saya bisa bermanfaat untuk semua orang, dan Insya Allah menjadi muslimah sejati di dunia dan akhirat.. AAMIIN….
semangat..!!


Aku terdiam sepi, membeku di sudut ruangan yang seharusnya ramai. Perlahan air mataku meleleh. Mungkin, aku memang tidak terlalu kuat untuk menghadapi semua ini sendiri. Pikiranku mulai melayang-layang ke masa lalu, tepatnya setahun silam saat usiaku genap 16 tahun. Hari itu hari yang cerah, matahari mengintip di antara celah-celah pohon di samping rumah dan menembus jendela dengan gorden warna ungu muda di kamarku. Aku masih bermalas-malasan di ranjang empuk berselimut tebal itu.
“Lia, bangun sayang sudah pagi,” begitu suara Mama yang lembut dari luar ruangan memanggil namaku, Lia Amalia.
“Hari ini kan hari Minggu, libur Ma.” Sekilas aku melirik si Panda, jam kesayanganku yang sudah mengacungkan jarinya ke angka 6, tapi justru aku hanya menarik selimut dan tidur lagi.
“Sayang kamu tidak mau kan Papa pulang dan melihat anak semata wayangnya masih tidur kan?.” Mama mendekatiku. Kata-kata itu cukup ampuh untuk membuat mataku terbelalak kaget.
“Benar Ma!”
“Iya sayang, makannya ayo lekas bangun dan mandi, bajunya Mama taruh di kursi.” Mama mengelus rambutku yang masih acak-acakan dan segera berlalu dari kamarku. Aku melangkah menuju kamar mandi dengan irama menari-nari bahagia. Air yang dingin dan segar mengguyur kulitku yang putih, menambah kegembiraanku pagi itu. Ku kenakan baju baru berwarna ungu muda dengan pita kuning. Aku tidak begitu ambil pusing mengapa hari ini Mama menyuruhku memakai baju yang kesannya seperti akan pergi ke pesta. Mungkin karena menyambut kepulangan Papa, tapi yang terpenting bagiku adalah Papa pulang dan aku sangat rindu.
—
“Sayang kamu cantik sekali.” Mama memelukku dari belakang dan aku tersenyum manja.
“Terimakasih Ma, Mama juga cantik.” Mama tersenyum padaku.
“Ayo sayang kita tunggu Papa pulang.” Aku menunggu di ruang tengah, di kursi yang aku duduki sekarang. Entah apa yang Mama lakukan di dapur, aku dibiarkan duduk sendiri. Aku menonton TV karena Mama tak juga muncul dari dapur. Film-film kartun yang membosankan memenuhi setiap gelombang stasiun TV yang aku pilih. Aku bosan.
“Happy birthday to you…” suara Mama dan Papa mengagetkanku. Aku baru ingat kalau hari ini adalah hari ulang tahunku yang ke-16. Mereka terus melantunkan lagu yang sama setiap tanggal 11 Desember pasti aku dengarkan dari mereka tanpa kecuali. Mungkin kecuali saat ini dan… seterusnya, entahlah… Aku menghambur ke arah mereka. Papa memelukku dan mengucapkan selamat ulang tahun dengan nada yang sangat lembut.
“Sayang, Papa punya sesuatu untukmu.” Papa menyodorkan kotak kecil berwarna ungu muda, warna kesukaanku.
“Apa ini Pa,”
“Buka saja, dan Papa harap kamu menyukainya”
“Aku pasti menyukainya Pa.” Perlahan pita kuning yang melilit kotak itu ku lepas dan ku buka. Sebuah kalung dengan gantungan namaku “LIA AMALIA”. Aku menangis terharu, bahagia.
“Kamu suka sayang?”
“Iya Pa, aku suka bahkan sangat suka.” Papa memelukku dan memakaikan kalung Itu di leherku. Mama juga ikut terharu.
“Lia Mama juga punya hadiah untukmu.” Sebuah boneka panda yang tingginya sepinggangku menjadi kado dari Mama untukku.
“Ma, Lia sayang Mama, seharusnya Mama dan Papa tidak perlu memberiku kado, apalagi kado yang mahal seperti ini. Kehadiran Mama dan Papa di sisiku saat ini dan seterusnya adalah hadiah terindah yang pernah diberikan kepadaku.” Sungguh saat itu aku begitu bahagia. Tak ada kata-kata yang pantas untuk melukiskan kebahagiaanku. Biarlah hati dan jiwaku yang bisa berbicara tentang kebahagiaan itu. Ya… kebahagian itu, kebahagiaan yang kini tinggal kenangan, dan entah kapan akan terulang lagi. Hatiku kini begitu perih mengingat semua masa-masa itu. Masa-masa yang sempurna bagai air garam, menyirami lukaku yang menganga.
Acara potong kue selesai, kami makan bersama. Canda tawa memenuhi ruangan besar berwarna coklat muda, tempat kami makan. Waktu selebihnya kami gunakan untuk pergi jalan-jalan bersama menikmati keindahan alam. Hari itu mungkin aku adalah orang yang paling bahagia di dunia ini.
Seminggu setelah ulang tahunku Papa kembali dengan kesibukkannya di Jakarta mengelola Rumah Makan warisan Nenek. Hampir setiap hari Papa telepon ke rumah menanyakan kabarku dan Mama. Terkadang Mama dulu yang telepon, mungkin karena Papa sedang sibuk. Kami selalu merasa bersama meskipun jarak telah menjadi jurang pemisah. Tiga bulan menjelang ulang tahunku yang ke-17 Papa mulai jarang telepon ke rumah. Terkadang Mama sampai kesal karena teleponnya tidak diangkat. Aku tidak berani bertanya apa alasan Papa jarang telepon atau mengangkat telepon Mama. Pertanyaan demi pertanyaan muncul di otakku tentang semua ini, namun aku tidak membiarkan diriku mencari jawabannya. Aku hanya berkesimpulan sendiri, Mungkin Papa SIBUK!.
Papa pulang sebulan setelah komunikasi mulai renggang atau tepatnya dua bulan mendekati sweet seventeenku. Kepulangan Papa kali ini berbeda dengan kepulangan-kepulangan sebelumnya. Papa tidak membawa oleh-oleh yang pernah dijanjikan kepadaku, tapi hanya membawa sebuah koper yang sudah lama sekali tidak kulihat. Sepertinya koper yang dibawa Papa waktu pertama kali ke Jakarta. Wajah Papa murung. Mama juga tidak menyambut Papa dengan hangat seperti biasanya. Hanya senyum yang sepertinya dipaksakan di hadapanku.
“Hallo sayang… apa kabar, kamu sehat saja kan?” Papa mendekapku. Ada nada yang berbeda dalam suara itu, tapi aku tidak bisa mengartikan apa yang terjadi sebenarnya.
“Baik Pa, Lia sehat, bagaimana dengan Papa?.” aku mencoba tersenyum.
“Papa sehat sayang, tapi…” suaranya terhenti dan muka Papa tertunduk
“Tapi apa Pa?”
“Papa tidak membawa oleh-oleh yang Papa janjikan kepadamu waktu berangkat,” terdengar nada yang bersalah. Aku menghela nafas panjang, teringat janji papa yang akan membelikanku Note Book.
“Sudahlah Pa, aku tidak begitu mempedulikan itu. Yang terpenting Papa sehat dan pulang dengan selamat.” Mama hanya mengamatiku dan Papa dari jauh. Tampak matanya basah.
“Terimakasih sayang, aku tau kamu anak yang baik dan pintar. Papa sayang kamu.”
“Aku juga sayang Papa.” Air mata yang bening membasahi Pipiku.
Sejak kepulangan Papa ke rumah, kami lebih banyak diam. Canda dan tawa seperti lenyap ditelan angin yang tak jelas rimbanya. Aku merasa kesepian seperti hidup sendiri, tapi aku tetap saja tak berani bertanya pada Mama ataupun Papa. Keributan–keributan kecil mulai sering terdengar antara Mama dan Papa. Jika sudah begitu yang ku lakukan hanya masuk kamar, mengunci pintu dan tidur. Meskipun begitu, mataku tak pernah bisa terpejam. Aku tak ingin mendengar orang yang kusayangi bertengkar atau pun saling menyalahkan. Puncak dari pertengkaran itu adalah 15 hari menjelang ulang tahunku. Hari yang paling ku benci seumur hidup dan tak kan pernah aku lupakan. Hari itu hari Minggu. Hujan turun dengan begitu derasnya, seolah-olah membalas beberapa hari kemarin yang tidak turun hujan. Aku duduk di kursi meja belajarku, mencoba mengingat-ingat pelajaran yang tadi siang diberikan oleh Bu Guru Matematika, Bu Yuni. Aku harus belajar keras karena tiga bulan lagi aku akan mengikuti Ujian Nasional SMA. Ya, sekarang aku duduk di kelas XII Jurusan Bahasa sebuah SMA ternama di kotaku.
Awalnya aku tidak mempedulikan keributan yang terjadi di ruang tengah itu. Mungkin telingaku sudah terbiasa. Tapi lama-lama nada Mama dan Papa semakin meninggi dan konsentrasiku pecah. Aku mulai ketakutan. Tubuhku merasa dingin bahkan terasa beku. Selimut yang tebal rupanya tidak bisa menghangatkan tubuhku serta mengusir rasa takut yang melanda.
“Pa, sebenarnya mau Papa apa?”
“Papa ingin Mama ngerti kondisi keuangan kita sekarang, bukannya membantu Papa malah semakin menyusahkan dengan hutang-hutang yang numpuk”. Aku semakin kedinginan
“Kok Papa nyalahin Mama, ini kan salah Papa yang sudah tidak pernah mengirimi Mama uang yang cukup, Mama terpaksa hutang,” nada Mama semakin menanjak
“Papa sedang berusaha menyelamatkan pekerjaan dari kebangkrutan, makannya Papa kurangi jatah bulanannya. Seharusnya Mama mengerti itu. Waktu itu aku lagi pusing-pusingnya memikirkan perusahaan Mama selalu menggangu dengan pertanyaan-pertanyaan yang membuat aku semakin pusing!”
“Oh jadi Papa merasa terganggu dengan sikap Mama yang perhatian dan justru ingin membantu Papa!”
“Bukan begitu Ma, maksud Papa” Belum selesai Papa bicara Mama sudah memotongnya dengan sebuah kata-kata yang belum ku tahu dengan pasti apa artinya, tapi itu menyakitkan.
“Maksudnya Papa mau bilang kalau Mama mengganggu Papa yang selingkuh dengan wanita lain di Jakarta?”
“Prattt!!!” Tangan Papa mendarat di pipi kanan Mama. Kepalaku yang sedari tadi menjadi saksi lewat celah pintu kamarku sungguh terasa berat. Tubuhku limbung ke lantai. Aku menangis. Ini pertama kalinya aku menyaksikan Papa yang begitu lembut dan penyanyang itu menampar Mama, wanita yang sudah dinikahinya 18 tahun lebih. Tak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut Papa kecuali wajah yang merah padam karena marah dan merasa bersalah.
“Aku minta cerai sekarang!” begitu kata Mama dengan tegas.
“Baik, kita cerai!.” Petir menggelegar. Memecah deru hujan yang lebat. Sempurna sudah lukaku. Bagai Ribuan Anak panah yang terus berlomba menghujam hatiku tanpa ampun. Sakit, sakit dan sakit. Entahlah… aku masih hidup di dunia atau tidak rasanya.
Papa meninggalkan rumah, sementara Mama masih duduk sambil menangis. Aku kerahkan seluruh tenagaku untuk mengejar Papa di tengah hujan yang lebat. Aku genggam tangan Papa yang dingin. Papa menatapku dengan senyuman yang terpaksa sementara aku masih sesenggukan.
“Jangan pergi tinggalin Lia dan Mama, Pa”
“Sayang, Papa pasti kembali untuk menjemputmu.” Itulah kata terkhir yang ku dengar dari Papa. Papa perlahan menghilang ditelan derasnya hujan.
Sehari setelah kepergian Papa, Mama juga pergi tanpa pamit secara langsung kepadaku. Mama hanya pamit melalui surat yang intinya akan menjemputku suatu saat nanti, seperti janji Papa. Hari demi hari ku tunggu kepulangan Papa dan Mama di rumah, namun sepertinya semua itu sia-sia. Sudah hampir seminggu aku tidak masuk sekolah dengan alasan kurang enak badan. Sebenarnya bukan hanya fisikku yang lemah tapi justru hatiku yang lebih lemah bahkan mungkin rapuh. Mulai minggu kemarin aku mencoba untuk bangkit dari keterpurukan. Untuk keperluan sehari-hari aku masih punya tabungan yang cukup untuk beberapa bulan kedepan. Pelajaran yang sudah tertinggal jauh mulai aku kejar degan penuh semangat. Aku ingin sukses Ujian Nasional termasuk lolos SNMPTN di Universitas favoritku, karena aku tidak mau mengecewakan Mama dan Papa yang kini entah dimana. Aku tidak lagi membiarkan mataku menagis menyesali nasib. Hidup harus terus berlanjut agar menjadi semakin bermanfaat untuk orang lain.
Akhirnya sampai pada hari ini, jam ini, dan detik ini, Pukul 8.11 WIB. Aku terdiam sepi, membeku di sudut ruangan yang seharusnya ramai seperti setahun lalu. Tak ada yang menyanyikan lagu itu untukku, tak ada yang mengucapkan selamat ulang tahun untukku. Bagi teman-temanku moment ini sangat ditunggu-tunggu “Sweet seventeen”. Ulang tahun yang paling bersejarah dimasa muda mereka. Tapi mungkin tidak bagiku karena bagiku “Sweet seventeen kelabu.”
“Mama dan Papa dimana sekarang?. Aku kesepian Ma, Pa. Aku ingin kalian ada disini seperti setahun lalu. Tak perlu hadiah kalung ini atau pun boneka panda yang besar. Aku rindu Papa dan Mama.” Perlahan air mataku meleh. Mungkin, aku memang tidak terlalu kuat untuk menghadapi semua ini sendiri, tapi aku yakin aku pasti kuat dan aku pasti bisa melewati semua cobaan ini.
“ting tong…” Tiba-tiba suara HPku membuyarkan lamunan. Sebuah pesan dari seseorang yang selalu menyemangatiku disaat-saat seperti ini.
Ms Yudha
Happy B’day ya, smg pnjg umur,sehat sllu n’ ttp ceria y. Q tau u pst bs hdapi sma ini dg tegar.
Aku tersenyum. Ku hapus air mataku dan ku katakan pada diriku sendiri “AKU PASTI BISA”.
Cerpen Karangan: Amanah D’penzy
Blog: www.mawarkuningku.wordpress.com
Dari sesuatu yang kecil ingin menjadi yang besar. Itulah aku.
“ma… kaca mata aku dimana?” Icha menggeledah tasnya yang ada di ruang tamu.
“ini sayang.. tadi mama lihat kacamata kamu kotor, jadi mama bersihin” jawab mamanya dengan sangat lembut.
“oh, makasih ya ma.. ya udah aku kuliah dulu ya ma.. Assalamuallaikum”
“Wa’allaikumussalam, hati-hati sayang”
Dengan motor vespa pemberian kakenya Icha bergegas ke kampus, jalan yang biasanya padat merayap kini tampak lancar karena hari masih cukup pagi. Icha memang sengaja berangkat lebih awal karena ia janjian sama Yoga, Icha meminta Yoga untuk menjelaskan materi yang kurang ia kuasai. Yoga adalah teman Icha sejak SMA, kini mereka kuliah di universitas yang sama namun beda jurusan.
“kemana aja sih cha.. lihat.. ini udah jam berapa..!” tanya Yoga tampak kesal.
“ya maaf Ga.. sepuluh menit aja kok..”
“ya udah, cepet.. setengah jam lagi aku harus ketemu sama dosen..”
“ya udah… sabar kek.. ni.. yang ini.. aku enggak ngerti” menunjuk kepada suatu halaman.
“…..” Yoga menjelaskan satu per satu hal yang ada di halaman itu.
Icha tak sepenuhnya fokus pada penjelasan Yoga, sesekali ia melihat ke arah Yoga, entah apa yang ia pikirkan.
“udah ngerti?” tanya Yoga.
“…” Icha tak menjawab dan hanya diam memperhatikan Yoga.
“cha!” tegur Yoga sedikit menekan.
“ah? Apa?”
“udah ngerti?”
“belum..”
“ya ampun cha.. dari tadi satu persatu aku jelasin tapi kamu enggak ngerti? Kebiasaan kamu cha.. ya udah.. nanti aku jelasin lagi.. sekarang aku harus nemuin dosen dulu” Yoga pun berlalu ninggalin Icha yang tersenyum manis di belakangnya.
Di kelasnya Icha sudah ditunggu Riki dan Safli untuk latihan gitar bareng. Dengan gitar pinjaman Riki.. Icha memainkan sebuah lagu yang indah, lagu ciptaannya sendiri. Baru setengah lagu, Yoga lewat depan kelas Icha dan mendengar suara Icha yang merdu, ia terdiam di pintu kelas Icha dan tak sadar jika teman-teman Icha memperhatikannya.
“Yoga…!” seru beberapa cewek dari luar kelas.
Yoga ngartis di sekolah, selain baik dan pintar dia juga ganteng (aw), tak sedikit gadis yang klepek-klepek dan histeris saat melihat Yoga. Sadar akan kehadiran Yoga yang disambut cewek-cewek cantik Icha pun memandangnya dan terus memainkan lagunya.
“cha, lo enggak cemburu gitu?” Safli memegang bahu Icha.
“cemburu? Untuk?” Icha meletakan gitar di lantai.
“ya lo kan deket sama Yoga..”
“gue sama Yoga Cuma temen” jawab Icha sambil tersenyum.
“Cha..!” Yoga berusaha memanggil Icha walau cewek-cewek itu menghalanginya.
“Cha, tu dipanggil Yoga..” bisik Riki.
“apaan, salah denger kali” jawab Icha malas.
Melihat Icha begitu cuek kepadanya, Yoga pun pergi meninggalkan cewek-cewek itu dan kembali ke kelasnya. Sepanjang jalan menuju kelasnya, tak henti-hentinya para cewek memandangnya kagum.
Diparkiran..
Di bawah pohon Yoga duduk di atas motornya, sudah satu jam ia menunggu Icha. Tak lama kemudian ia lihat Icha mulai mendekati vespanya, “Icha..!” ia berteriak memanggil Icha. Tak seperti biasanya Icha selalu riang ketika mendekati Yoga, kali ini ia berjalan lesu dan lambat.
“apa?” tanyanya lirih.
“kamu kenapa sih? Gitu banget”
“gak apa-apa”
“kata salah satu akun twitter.. ketika cewek bilang ga apa-apa itu berarti ada apa-apa”
“sok tahu”
“jutek banget sih”
“biarin”
“Icha… ya udah.. aku mau ngomong..”
“silahkan”
“Cha, aku suka sama kamu.. aku sayang sama kamu.. aku tahu kamu juga sayang kan sama aku.. eeemmn.. would you like to be mine?”
“Yoga? Kamu bercanda..?”
“ada saatnya aku bercanda.. tapi ada saatnya aku serius! Cha..?”
Dengan malu-malu Icha menganggukan kepalanya, Yoga pun tersenyum lebar dan terus memandang Icha dengan wajah yang memerah. Tak mampu menahan gugup yang luar biasa, Icha pun segera menunggangi vespanya dan meninggalkan Yoga.
Bulan demi bulan mereka lewati bersama, fans Yoga tak percaya akan hubungan Yoga dengan Icha. Beberapa dari mereka membenci Icha bahkan menerornya, tapi tanpa lelah Yoga terus meyakinkan Icha.
Dewi, teman Yoga selalu dihantui rasa iri dan cemburu setiap melihat kedekatan Yoga dengan Icha. Seribu cara ia pikirkan untuk memisahkan mereka.
“Cha.. lo itu apain Yoga sih? Lo pelet Yoga ya?! Lo itu enggak ada apa-apanya kalau dibandingin sama gue! Yoga enggak pantes buat lo! Pantesnya sama gue!” bentak Dewi kepada Icha di sebuah lorong kampus tapi Icha hanya bisa diam.
Yoga yang tak sengaja melihat Icha dan Dewi segera menghampiri mereka dengan wajah santai. Yoga menggandeng Icha dan menatap sinis Dewi, itu membuat Dewi semakin membenci Icha.
“Kata Dewi aku enggak pantes untuk kamu Ga.. bener dia..” Icha mulai menangis.
“kamu jangan dengerin dia! Kamu tahukan dia itu gimana orangnya.. udah, setetes air mata kamu jauh lebih berharga dari sebutir mutiara.. jangan dibuang-buang..” Yoga berusaha meyakinkan Icha.
Yoga menggenggam tangan Icha yan gemetaran karena takut jika Dewi akan menyakitinya. Yoga berpikir apa yang harus ia lakukan agar Icha tersenyum lagi, satu ide manis melintas di pikirannya.
“Cha, aku punya permainan..”
“apa?”
“dah lama kan kita enggak main engklek.. main yu.. eh tu ada tukang balon..”
“kamu mau beli balon?”
“iya, ni ada 2 balon.. yang kalah harus joget segila-gilanya ok? Kamu pasti kalah”
“ok, siapa takut..? PD banget. Terus balonnya untuk apa?”
“balon ini untuk ngirim surat ke angin”
Mereka main engklek di taman, taman itu memang mempunyai satu lokasi yang biasa digunakan untuk refresing. Mereka tertawa dan terus bercanda, walau di taman ada beberapa orang namun tiada yang memperhatikan mereka. Dari jauh Dewi memperhatikan mereka dengan rasa benci yang mendalam.
“HAHAHA akhirnya aku juga yang menang… aku bilang apa.. ni kamu tulis apa kek terserah terus kita terbangin bareng ya..”
Setelah mereka berdua menulis suratnya, secara bersama-sama mereka melepas balon-balon itu. Yoga melihat senyum Icha yang selalu membuatnya merasa nyaman dalam keadaan apapun.
“ya udah yang kalah joget donk..” suruh Yoga.
‘hah! Jadi beneran joget?!” tanya Icha kaget.
“ya iya donk…”
“hih… malu-maluin..”
“siapa suruh kalah.. wleeek”
Setelah mengumpulkan sejuta keberanian dan menutup rasa malunya, Icha harlem shake an di tengah taman. Orang-orang yang ada di taman tertawa keheranan melihat Icha. Tapi tiba-tiba “AW” kakinya terkilir, Yoga dengan sigap memegangnya agar tak jatuh.
“sakit..” rintih Icha.
“ya udah.. sini aku gendong.. hati-hati” Yoga mulai menggendong Icha.
Hari ini Icha memang ke kampus bareng Yoga karena vespanya mogok, padahal rumah mereka lumayan berjauhan. Sesampainya di rumah, Yoga memijat kaki Icha dan kemudian Icha merasa kakinya jadi lebih baik walau masih sakit. Karena sudah sore Yoga pun pamit pulang.
Hari ini hari 16 Agustus 2013, hari jadi Icha dan Yoga yang ke satu tahun. Yoga berencana mengajak Icha jalan ke luar. Dengan kemeja kotak-kotak Yoga menjemput Icha, setelah menunggu beberapa lama kemudian Icha keluar dengan jilbab merah mudan dan gaunnya.
Mereka pergi ke tempat wisata air terjun, Dewi yang mengetahui kepergian mereka terus membuntuti mereka. Di pinggir air terjun bagian atas Icha dan Yoga berlagak seperti satu adegan di film Titanic, dimana kedua pemeran utama melentangkan tangannya. Kecemburuan Dewi semakin mempuncak, ia mempunyai satu ide jahat, ia berniat melukai Icha.
Dengan penampilan yang berbeda tentu membuat Yoga dan Icha tak menyadari kehadiran Dewi. Ketika Yoga dan Icha melepaskan tangan mereka tiba-tiba Dewi dengan sengaja menabrak Icha. Secara reflek Yoga menarik Icha namun ia terpeleset dan akhirnya jatuh ke pinggir air terjun.
“Yoga…!!!” teriak Icha.
Dewi sangat ketakutan ketika ia tahu bahwa yang jatuh itu Yoga, lelaki yang ia cinta, dengan rasa bersalah Dewi melarikan diri sedangkan Icha segera menghampiri Yoga yang sudah dikerumuni banyak orang.
Suara ambulan mengiringi tangisan Icha melihat Yoga yang tak sadarkan diri, tangannya bergetar kencan. Setibanya di rumah sakit ia terus menangis di depan pintu UGD.
“tante.. Yoga jatuh tante..” dengan tersedu-sedu Icha memberanikan diri untuk menghubungi ibu Yoga.
Tak lama kemudian keluarga Yoga berdatangan begitu juga dengan Riki dan Safli, Icha tak berhenti menangis. Karena waktu sudah menunjukan pukul 15.10 Icha pun bergegas ke mushola bersama Riki dan Safli, dengan sangat khusuk dan air mata yang tak kunjung mengalir ia memohon agar Allah menyelamatkan Yoga.
Semalaman Icha berdiam diri di ruang tunggu bersama keluarga Yoga yang hanya diam berulang kali Icha berusaha bertanya kepada keluarga Yoga tapi tak satu pun jawaban ia dapatkan. Tak lama kemudian di atas tempat tidur ia melihat Yoga yang belum sadarkan diri, ia merasa ada yang aneh dengan Yoga.
Keesokan hari..
Ibu Yoga tak mengizinkan Icha membuka selimut tebal yang menutupi tubuh Yoga dengan alasan takut Yoga kedinginan. Tak lama kemudian mama Icha datang dengan membawakan pakaian bersih untuk Icha. Setelah membersihkan diri Icha kembali menemani Yoga, tak lama kemudian Yoga mulai membuka matanya, kata yang pertama ia sebutkan adalah nama “Icha”.
Dengan sangat bahagia Icha mengelus-elus rambut Yoga, semua yang menemaninya terdiam tanpa suara. Hingga Yoga merasa ada yang aneh pada dirinya.
“kok kaki kanan sama tangan kanan aku gak bisa gerak sih..?” Yoga bertanya-tanya.
“kenapa Ga? Coba aku lihat..”
Dengan penuh kasih sayang Icha membuka sebagian selimut tebal yang menutupi tubuh Yoga, betapa terkejutnya ia ketika melihat tangan kanan Yog ayang ternyata diamputasi. Ia segera melanjutkan ke arah kaki, air matanya semakin menderas melihat kaki kanan Yoga yang juga telah tiada. Yoga yang belum bisa menerima semua itu terus menangis, semua yang ada di kamar terus menangis melihat Yoga, tapi dengan ketegarannya Icha menyerahkan bahunya untuk Yoga menangis.
Minggu demi minggu berlalu, Yoga belum mau berkata banyak, ia lebih sering menangis dan berdiam diri. Dewi yang mendengar kabar itu langsung datang ke rumah Yoga, betapa terkejutnya ia ketika melihat Yoga terduduk di kursi roda ditemani Icha. Dewi merasa bersalah tapi ia tak sanggup mengatakan yang sesungguhnya, ia pun pergi entah kemana.
Setiap pulang dari kampus Icha selalu menyempatkan diri untuk menemani Yoga. Berkali-kali ia memencet bell tapi tak ada yang membuka pintu, terpaksa ia lompat pagar belakang karena melihat pintu dapur tidak ditutup.
“Yoga..?”
Tiba-tiba ia mendengar suara air dan suara tangisan, ia segera lari ke arah kamar mandi. Betapa terkejutnya Icha ketika melihat Yoga tergeletak di lantai kamar mandi dengan air shower panas yang membasahi Yoga, sepertinya Yoga terpeleset beberapa kali. Icha memapah Yoga dan mengganti pakaian luarnya, ia melihat kulit Yoga menjadi kemerahan karena tersiram air panas. Dengan lembut Icha mengobati Yoga yang pura-pura menahan sakit.
“aku gak bisa apa-apa.. aku hanya bisa nyusahin orang lain aja” kata Yoga lirih.
“kamu ngomong apa sih!”
“seharusnya kemarin aku mati aja, biar enggak nyusahin orang terus”
“Yoga! Allah masih sayang sama kamu.. ini semua kecelakaan, kamu harus buktikan kalau kamu kuat”
“aku enggak sanggup cah.. pasti sebentar lagi kamu juga akan ninggalin aku”
“Yoga! Alu gak suka kamu ngomong gitu.. kalau kamu ngomong gitu sama aja kamu ngeraguin aku dan aku benci diraguin! Kalau kamu enggak kuat biar kaki dan tangan aku jadi kaki dan tangan kamu.. Insya Allah aku gak akan ninggalin kamu..”
Yoga pun menangis dalam rangkulan Icha. Dalam hatinya ia sangat ketakutan bila Icha meninggalkannya tapi ia juga tak mau mempertaruhkan masa depan Icha, yang ia tahu ia sangat mencintai Icha.
Setiap hari Icha menghibur Yoga, ketika Yoga hendak berdiri ia ingat saat Yoga menggongnya.. Icha pun terus memapah Yoga kemana-mana ketika Yoga lelah terus terdiam di kursi roda. Keluarga Yoga terharu melihat Icha yang tak meninggalkan Yoga dengan keadaan seperti itu. Suatu sore ibu Yoga berbincang dengan Icha, ia memberikan sebuah bingkisan yang katanya dari Yoga.
Setelah ia membuka bingkisan itu ternyata isinya adalah lampu proyektor bintang dan sepucuk surat dari Yoga. Membaca kalimat demi kalimat dari surat itu membuat Icha terharu dan menangis bangga memiliki Yoga. Semakin hari cintanya semakin besar walau ia tahu keadaan Yoga sekarang.
Suatu hari teman-teman Yoga datang berkunjung, betapa kagetnya mereka melihat Yoga bisa tersenyum dengan keadaannya yang seperti sekarang. Ketika ditanya “apa alasanmu untuk tersenyum saat ini?” ia menjawab “aku punya Allah.. aku punya keluarga.. aku punya teman.. aku punya Icha.. mereka lebih dari sekedar kaki dan tangan”, teman-temannya pun terharu dan memeluknya erat-erat.
Karena waktu sudah menunjukan pukul 12.30 mereka bergegas mengambil air wudhu dan sholat dzuhur berjama’ah. Walau tak menjadi imam tapi Yoga tetap bersemangat dengan kursi rodanya di syof pertama di belakang imam.
Walau kehilangan tangan dan kakinya tapi ia tak kehilangan cinta dari orang-orang yang ada di sekitarnya, walau kehilangan fans-fansnya tapi ia tahu fans itu bernilai nol. Dengan tulus hati Icha terus mendampingi Yoga, walau orang tuanya selalu menyuruhnya meninggalkan Yoga tapi keteguhan hati dan cintanya membuat ia bertahan.
Kini Yoga dan Icha sering berduet di acara pernikahan dan acara penting lainnya. Orang yang mendengar suara mereka dan melihat cinta mereka terharu, beberapa di antara mereka merasa malu dengan kesetiaan Icha. Sedangkan Dewi kini ia tak pernah kelihatan lagi, entah kemana perginya ia tak ada yang tahu. Dan seperti janjinya, Icha tak meninggalkan Yoga sendirian.
Cerpen Karangan: Aulia Farhah Fa
Blog: Auliaindonesia.blogspot.com
@aufafiam
auliafarhahfitriyani_amka[-at-]yahoo.co.id

Aku adalah seorang siswi di sekolah swasta di Jakarta. Orang tuaku berkerja sebagai penjual gorengan. Sehari-hari setiap sore sampai malam mereka berjualan di warung pinggir jalan. Terkadang, Aku ingin sekali membantu berjualan sampai selesai. Tapi Ayah melarangku. Ia ingin aku belajar saja di Rumah agar kelak menjadi orang sukses dan tidak berjualan seperti mereka. Maka dengan berat hati kuturuti saja kemauan Ayah.
Kalau musim penghujan tiba, aku benar-benar tidak tega. Bagaimana tidak, mereka tetap berjualan di tengah-tengah hujan deras dan dinginnya malam. Demi sesuap nasi, mereka rela menembus sepi dan dinginnya malam untuk berjualan.
Sebenarnya, kehidupan kami dulu sangat bahagia. Ayah berkerja di sebuah perusahaan yang gajinya cukup besar. Semua kebutuhanku terpenuhi. Apalagi, aku hanya anak tunggal. Tapi, semua berubah semenjak Ayah dikeluarkan dari tempatnya berkerja. Ayah dituduh mencuri uang perusahaan tanpa bukti yang jelas. Akibatnya, Ayah harus mengembalikan uang yang jumlahnya tidak sedikit. Bahkan Ayah harus menjual mobil dan rumah mewah kami. Ayah benar-benar terpukul. Beliau sulit menerima kenyataan ini. Akibatnya, Ayah putus asa. Beliau tidak mau berkerja lagi. Untung, Aku memiliki seorang Ibu yang sabar. Beliau memiliki hati yang mulia. Dengan keteguhan hatinya, beliau tetap menjalani hidup dengan semangat. Ia tidak pernah mengeluh bahkan menyesali nasib. Walau tiap hari harus pergi ke Pasar untuk belanja, siang membuat gorengan, sampai sore berjualan sampai malam hari. Bahkan sering tengah malam Ibu dan Ayah baru pulang.
Hidup memang ketentuan Allah. Adakalanya di atas dan adakalanya di bawah. Kini hidupku sedang di bawah. Maka aku harus melaluinya dengan sabar dan tabah. Aku yakin ada hikmah di balik semua ini.
Cerpen Karangan: Syamkhan Habibi
Facebook: Syamkhan


Aku terdiam sepi, membeku di sudut ruangan yang seharusnya ramai. Perlahan air mataku meleleh. Mungkin, aku memang tidak terlalu kuat untuk menghadapi semua ini sendiri. Pikiranku mulai melayang-layang ke masa lalu, tepatnya setahun silam saat usiaku genap 16 tahun. Hari itu hari yang cerah, matahari mengintip di antara celah-celah pohon di samping rumah dan menembus jendela dengan gorden warna ungu muda di kamarku. Aku masih bermalas-malasan di ranjang empuk berselimut tebal itu.
“Lia, bangun sayang sudah pagi,” begitu suara Mama yang lembut dari luar ruangan memanggil namaku, Lia Amalia.
“Hari ini kan hari Minggu, libur Ma.” Sekilas aku melirik si Panda, jam kesayanganku yang sudah mengacungkan jarinya ke angka 6, tapi justru aku hanya menarik selimut dan tidur lagi.
“Sayang kamu tidak mau kan Papa pulang dan melihat anak semata wayangnya masih tidur kan?.” Mama mendekatiku. Kata-kata itu cukup ampuh untuk membuat mataku terbelalak kaget.
“Benar Ma!”
“Iya sayang, makannya ayo lekas bangun dan mandi, bajunya Mama taruh di kursi.” Mama mengelus rambutku yang masih acak-acakan dan segera berlalu dari kamarku. Aku melangkah menuju kamar mandi dengan irama menari-nari bahagia. Air yang dingin dan segar mengguyur kulitku yang putih, menambah kegembiraanku pagi itu. Ku kenakan baju baru berwarna ungu muda dengan pita kuning. Aku tidak begitu ambil pusing mengapa hari ini Mama menyuruhku memakai baju yang kesannya seperti akan pergi ke pesta. Mungkin karena menyambut kepulangan Papa, tapi yang terpenting bagiku adalah Papa pulang dan aku sangat rindu.
—
“Sayang kamu cantik sekali.” Mama memelukku dari belakang dan aku tersenyum manja.
“Terimakasih Ma, Mama juga cantik.” Mama tersenyum padaku.
“Ayo sayang kita tunggu Papa pulang.” Aku menunggu di ruang tengah, di kursi yang aku duduki sekarang. Entah apa yang Mama lakukan di dapur, aku dibiarkan duduk sendiri. Aku menonton TV karena Mama tak juga muncul dari dapur. Film-film kartun yang membosankan memenuhi setiap gelombang stasiun TV yang aku pilih. Aku bosan.
“Happy birthday to you…” suara Mama dan Papa mengagetkanku. Aku baru ingat kalau hari ini adalah hari ulang tahunku yang ke-16. Mereka terus melantunkan lagu yang sama setiap tanggal 11 Desember pasti aku dengarkan dari mereka tanpa kecuali. Mungkin kecuali saat ini dan… seterusnya, entahlah… Aku menghambur ke arah mereka. Papa memelukku dan mengucapkan selamat ulang tahun dengan nada yang sangat lembut.
“Sayang, Papa punya sesuatu untukmu.” Papa menyodorkan kotak kecil berwarna ungu muda, warna kesukaanku.
“Apa ini Pa,”
“Buka saja, dan Papa harap kamu menyukainya”
“Aku pasti menyukainya Pa.” Perlahan pita kuning yang melilit kotak itu ku lepas dan ku buka. Sebuah kalung dengan gantungan namaku “LIA AMALIA”. Aku menangis terharu, bahagia.
“Kamu suka sayang?”
“Iya Pa, aku suka bahkan sangat suka.” Papa memelukku dan memakaikan kalung Itu di leherku. Mama juga ikut terharu.
“Lia Mama juga punya hadiah untukmu.” Sebuah boneka panda yang tingginya sepinggangku menjadi kado dari Mama untukku.
“Ma, Lia sayang Mama, seharusnya Mama dan Papa tidak perlu memberiku kado, apalagi kado yang mahal seperti ini. Kehadiran Mama dan Papa di sisiku saat ini dan seterusnya adalah hadiah terindah yang pernah diberikan kepadaku.” Sungguh saat itu aku begitu bahagia. Tak ada kata-kata yang pantas untuk melukiskan kebahagiaanku. Biarlah hati dan jiwaku yang bisa berbicara tentang kebahagiaan itu. Ya… kebahagian itu, kebahagiaan yang kini tinggal kenangan, dan entah kapan akan terulang lagi. Hatiku kini begitu perih mengingat semua masa-masa itu. Masa-masa yang sempurna bagai air garam, menyirami lukaku yang menganga.
Acara potong kue selesai, kami makan bersama. Canda tawa memenuhi ruangan besar berwarna coklat muda, tempat kami makan. Waktu selebihnya kami gunakan untuk pergi jalan-jalan bersama menikmati keindahan alam. Hari itu mungkin aku adalah orang yang paling bahagia di dunia ini.
Seminggu setelah ulang tahunku Papa kembali dengan kesibukkannya di Jakarta mengelola Rumah Makan warisan Nenek. Hampir setiap hari Papa telepon ke rumah menanyakan kabarku dan Mama. Terkadang Mama dulu yang telepon, mungkin karena Papa sedang sibuk. Kami selalu merasa bersama meskipun jarak telah menjadi jurang pemisah. Tiga bulan menjelang ulang tahunku yang ke-17 Papa mulai jarang telepon ke rumah. Terkadang Mama sampai kesal karena teleponnya tidak diangkat. Aku tidak berani bertanya apa alasan Papa jarang telepon atau mengangkat telepon Mama. Pertanyaan demi pertanyaan muncul di otakku tentang semua ini, namun aku tidak membiarkan diriku mencari jawabannya. Aku hanya berkesimpulan sendiri, Mungkin Papa SIBUK!.
Papa pulang sebulan setelah komunikasi mulai renggang atau tepatnya dua bulan mendekati sweet seventeenku. Kepulangan Papa kali ini berbeda dengan kepulangan-kepulangan sebelumnya. Papa tidak membawa oleh-oleh yang pernah dijanjikan kepadaku, tapi hanya membawa sebuah koper yang sudah lama sekali tidak kulihat. Sepertinya koper yang dibawa Papa waktu pertama kali ke Jakarta. Wajah Papa murung. Mama juga tidak menyambut Papa dengan hangat seperti biasanya. Hanya senyum yang sepertinya dipaksakan di hadapanku.
“Hallo sayang… apa kabar, kamu sehat saja kan?” Papa mendekapku. Ada nada yang berbeda dalam suara itu, tapi aku tidak bisa mengartikan apa yang terjadi sebenarnya.
“Baik Pa, Lia sehat, bagaimana dengan Papa?.” aku mencoba tersenyum.
“Papa sehat sayang, tapi…” suaranya terhenti dan muka Papa tertunduk
“Tapi apa Pa?”
“Papa tidak membawa oleh-oleh yang Papa janjikan kepadamu waktu berangkat,” terdengar nada yang bersalah. Aku menghela nafas panjang, teringat janji papa yang akan membelikanku Note Book.
“Sudahlah Pa, aku tidak begitu mempedulikan itu. Yang terpenting Papa sehat dan pulang dengan selamat.” Mama hanya mengamatiku dan Papa dari jauh. Tampak matanya basah.
“Terimakasih sayang, aku tau kamu anak yang baik dan pintar. Papa sayang kamu.”
“Aku juga sayang Papa.” Air mata yang bening membasahi Pipiku.
Sejak kepulangan Papa ke rumah, kami lebih banyak diam. Canda dan tawa seperti lenyap ditelan angin yang tak jelas rimbanya. Aku merasa kesepian seperti hidup sendiri, tapi aku tetap saja tak berani bertanya pada Mama ataupun Papa. Keributan–keributan kecil mulai sering terdengar antara Mama dan Papa. Jika sudah begitu yang ku lakukan hanya masuk kamar, mengunci pintu dan tidur. Meskipun begitu, mataku tak pernah bisa terpejam. Aku tak ingin mendengar orang yang kusayangi bertengkar atau pun saling menyalahkan. Puncak dari pertengkaran itu adalah 15 hari menjelang ulang tahunku. Hari yang paling ku benci seumur hidup dan tak kan pernah aku lupakan. Hari itu hari Minggu. Hujan turun dengan begitu derasnya, seolah-olah membalas beberapa hari kemarin yang tidak turun hujan. Aku duduk di kursi meja belajarku, mencoba mengingat-ingat pelajaran yang tadi siang diberikan oleh Bu Guru Matematika, Bu Yuni. Aku harus belajar keras karena tiga bulan lagi aku akan mengikuti Ujian Nasional SMA. Ya, sekarang aku duduk di kelas XII Jurusan Bahasa sebuah SMA ternama di kotaku.
Awalnya aku tidak mempedulikan keributan yang terjadi di ruang tengah itu. Mungkin telingaku sudah terbiasa. Tapi lama-lama nada Mama dan Papa semakin meninggi dan konsentrasiku pecah. Aku mulai ketakutan. Tubuhku merasa dingin bahkan terasa beku. Selimut yang tebal rupanya tidak bisa menghangatkan tubuhku serta mengusir rasa takut yang melanda.
“Pa, sebenarnya mau Papa apa?”
“Papa ingin Mama ngerti kondisi keuangan kita sekarang, bukannya membantu Papa malah semakin menyusahkan dengan hutang-hutang yang numpuk”. Aku semakin kedinginan
“Kok Papa nyalahin Mama, ini kan salah Papa yang sudah tidak pernah mengirimi Mama uang yang cukup, Mama terpaksa hutang,” nada Mama semakin menanjak
“Papa sedang berusaha menyelamatkan pekerjaan dari kebangkrutan, makannya Papa kurangi jatah bulanannya. Seharusnya Mama mengerti itu. Waktu itu aku lagi pusing-pusingnya memikirkan perusahaan Mama selalu menggangu dengan pertanyaan-pertanyaan yang membuat aku semakin pusing!”
“Oh jadi Papa merasa terganggu dengan sikap Mama yang perhatian dan justru ingin membantu Papa!”
“Bukan begitu Ma, maksud Papa” Belum selesai Papa bicara Mama sudah memotongnya dengan sebuah kata-kata yang belum ku tahu dengan pasti apa artinya, tapi itu menyakitkan.
“Maksudnya Papa mau bilang kalau Mama mengganggu Papa yang selingkuh dengan wanita lain di Jakarta?”
“Prattt!!!” Tangan Papa mendarat di pipi kanan Mama. Kepalaku yang sedari tadi menjadi saksi lewat celah pintu kamarku sungguh terasa berat. Tubuhku limbung ke lantai. Aku menangis. Ini pertama kalinya aku menyaksikan Papa yang begitu lembut dan penyanyang itu menampar Mama, wanita yang sudah dinikahinya 18 tahun lebih. Tak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut Papa kecuali wajah yang merah padam karena marah dan merasa bersalah.
“Aku minta cerai sekarang!” begitu kata Mama dengan tegas.
“Baik, kita cerai!.” Petir menggelegar. Memecah deru hujan yang lebat. Sempurna sudah lukaku. Bagai Ribuan Anak panah yang terus berlomba menghujam hatiku tanpa ampun. Sakit, sakit dan sakit. Entahlah… aku masih hidup di dunia atau tidak rasanya.
Papa meninggalkan rumah, sementara Mama masih duduk sambil menangis. Aku kerahkan seluruh tenagaku untuk mengejar Papa di tengah hujan yang lebat. Aku genggam tangan Papa yang dingin. Papa menatapku dengan senyuman yang terpaksa sementara aku masih sesenggukan.
“Jangan pergi tinggalin Lia dan Mama, Pa”
“Sayang, Papa pasti kembali untuk menjemputmu.” Itulah kata terkhir yang ku dengar dari Papa. Papa perlahan menghilang ditelan derasnya hujan.
Sehari setelah kepergian Papa, Mama juga pergi tanpa pamit secara langsung kepadaku. Mama hanya pamit melalui surat yang intinya akan menjemputku suatu saat nanti, seperti janji Papa. Hari demi hari ku tunggu kepulangan Papa dan Mama di rumah, namun sepertinya semua itu sia-sia. Sudah hampir seminggu aku tidak masuk sekolah dengan alasan kurang enak badan. Sebenarnya bukan hanya fisikku yang lemah tapi justru hatiku yang lebih lemah bahkan mungkin rapuh. Mulai minggu kemarin aku mencoba untuk bangkit dari keterpurukan. Untuk keperluan sehari-hari aku masih punya tabungan yang cukup untuk beberapa bulan kedepan. Pelajaran yang sudah tertinggal jauh mulai aku kejar degan penuh semangat. Aku ingin sukses Ujian Nasional termasuk lolos SNMPTN di Universitas favoritku, karena aku tidak mau mengecewakan Mama dan Papa yang kini entah dimana. Aku tidak lagi membiarkan mataku menagis menyesali nasib. Hidup harus terus berlanjut agar menjadi semakin bermanfaat untuk orang lain.
Akhirnya sampai pada hari ini, jam ini, dan detik ini, Pukul 8.11 WIB. Aku terdiam sepi, membeku di sudut ruangan yang seharusnya ramai seperti setahun lalu. Tak ada yang menyanyikan lagu itu untukku, tak ada yang mengucapkan selamat ulang tahun untukku. Bagi teman-temanku moment ini sangat ditunggu-tunggu “Sweet seventeen”. Ulang tahun yang paling bersejarah dimasa muda mereka. Tapi mungkin tidak bagiku karena bagiku “Sweet seventeen kelabu.”
“Mama dan Papa dimana sekarang?. Aku kesepian Ma, Pa. Aku ingin kalian ada disini seperti setahun lalu. Tak perlu hadiah kalung ini atau pun boneka panda yang besar. Aku rindu Papa dan Mama.” Perlahan air mataku meleh. Mungkin, aku memang tidak terlalu kuat untuk menghadapi semua ini sendiri, tapi aku yakin aku pasti kuat dan aku pasti bisa melewati semua cobaan ini.
“ting tong…” Tiba-tiba suara HPku membuyarkan lamunan. Sebuah pesan dari seseorang yang selalu menyemangatiku disaat-saat seperti ini.
Ms Yudha
Happy B’day ya, smg pnjg umur,sehat sllu n’ ttp ceria y. Q tau u pst bs hdapi sma ini dg tegar.
Aku tersenyum. Ku hapus air mataku dan ku katakan pada diriku sendiri “AKU PASTI BISA”.
Cerpen Karangan: Amanah D’penzy
Blog: www.mawarkuningku.wordpress.com
Dari sesuatu yang kecil ingin menjadi yang besar. Itulah aku.