Tampilkan postingan dengan label Motivasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Motivasi. Tampilkan semua postingan
Menyandang nama belakang Irawan, hidup Maura Kalena bisa dikatakan mendekati kata sempurna. Kehidupan mewah yang bagi kebanyakan orang hanyalah isapan jempol belaka merupakan suatu hal yang dimiliki Maura sejak lahir. Semua yang diinginkan Maura tidak pernah tidak dipenuhi. Telepon genggam keluaran terbaru, kamar tidur sekelas hotel bintang lima, serta supir yang selalu siap antar jemput kemana saja. Maura bisa menikmati semua fasilitas tersebut karena ia merupakan anak tunggal dari seseorang yang sangat berpengaruh di kalangan pebisnis papan atas. Papanya merupakan pemilik dari Irawan group, yang menjalankan bisnis di bidang real estate sementara mamanya sedang bergelut di bidang butik.
Dibalik semua kemewahan itu, Maura tetaplah seorang remaja SMA biasa. Ia tidak terlalu ambil pusing dengan semua gosip maupun decak kekaguman yang dilontarkan teman-temannya di sekolah. Ia merasa miris mengetahui semua anak mendambakan kehidupannya. Maura memang cantik, pintar, dan dikelilingi harta berlimpah, namun apa semua itu berguna ketika ia sendiri merasa sangat kesepian? Kedua orang tuanya sibuk dengan urusannya masing-masing. Mereka selalu berpikir bahwa putri tunggal mereka hanya butuh harta, harta dan harta.
“Mama, Papa, kita liburan, yuk. Maura pengen ke Lombok. Kata temen Maura disana bagus.” Maura dengan antusias berbicara kepada kedua orang tuanya. Maura pikir makan malam adalah waktu yang paling pas, karena hanya pada saat makan malamlah mereka bertiga bisa duduk satu meja. Senyum Maura perlahan memudar ketika dia tahu ucapannya tadi berakhir sia-sia. Maura melihat kedua orang tuanya sibuk dengan telepon genggam mereka masing-masing, sama sekali tidak mendengarkan apa yang Maura katakan.
“Eh, tadi Maura bilang apa?” tanya Mama, sepuluh menit kemudian.
“Maura pengen liburan, Ma. Liburan yang beneran, bertiga bareng mama sama papa. Terakhir kita liburan bareng kapan? 10 tahun yang lalu?”
Mamanya terdiam. Papa Maura yang tadinya terus sibuk dengan telepon genggamnya akhirnya angkat bicara. “Maura, sudah berapa kali sih papa bilang? Papa itu sibuk kerja, cari uang buat hidup kamu sama mama. Bisnis papa nggak mungkin bisa ditinggal untuk hal-hal tidak penting seperti itu. Kamu lagi butuh apa sih? HP baru? Atau laptop baru? Kalau iya, bilang sama papa. Inget ya, jangan sekali-sekali ajak papa buat hal-hal kayak gitu.”
Maura setengah mati menahan air matanya yang hendak tumpah dan memaksakan senyum. “Kalau Maura liburannya berdua sama mama boleh, Pa?” Maura bertanya kepada papanya dengan suara bergetar menahan tangis, sementara yang ditanya kembali mengacuhkan Maura. Maura menoleh ke arah mamanya, minta penjelasan.
“Maura sayang, kamu kan tahu papa itu sibuk, jadi nggak usah ganggu papa untuk hal-hal seperti ini. Kalau untuk liburan, maaf ya sayang. Mama lagi sibuk soalnya ada rencana mau buka cabang baru.” Mamanya berusaha menjelaskan dan sedetik kemudian kembali sibuk dengan telepon genggamnya.
Maura menyeka air matanya yang perlahan turun, menyudahi makan malamnya, dan berlari ke kamarnya. Sungguh, hidup seperti inikah yang didambakan teman-teman sekolahnya? Dari kecil Maura tidak pernah dekat dengan papanya, dan ketika sudah menginjak bangku SD, mamanya juga terasa menghilang dari kehidupan Maura. Maura hanya ditemani pembantu, supir, serta barang-barang elektronik mewah miliknya. Jika bisa, ia ingin menjadi seperti Naisha, teman sekelasnya. Naisha tidaklah kaya, namun ia bahagia. Walaupun tidak liburan ke luar negeri, kedua orang tua Naisha sangat memperhatikannya. Andai saja mama dan papa tahu bahwa harta dan kedudukan bukanlah segalanya.
Maura tidak habis pikir dengan kedua orang tuanya. Bayangkan saja, saat liburan seperti ini pun mereka masih saja sibuk dengan bisnis mereka. Maura menghempaskan tubuhnya ke sofa besar di kamarnya dan tangannya iseng menyalakan televisi, bermaksud untuk menghibur diri agar tidak kesepian. Terdengar suara penyiar berita dan urat-urat di tubuh Maura menegang seketika begitu mendengarnya.
“Rosa Irawan, istri dari Ridwan Irawan seorang yang seperti kita ketahui merupakan pemilik dari Irawan Group diketahui selingkuh dengan seorang aktor perfilman papan atas Indonesia, Dimas Fariz. Mereka tertangkap kamera sedang berpelukan mesra layaknya dua orang remaja yang sedang jatuh cinta. Berita ini tentunya mengguncang dunia intertaiment maupun dunia bisnis Indonesia. Apalagi seperti yang selama ini kita ketahui pernikahan Ridwan dan Rosa Irawan tidak bisa dikatakan harmonis. Tentunya, pemirsa, yang paling menderita akibat kasus ini adalah putri tunggal mereka, Maura Kalena Irawan…”
Maura langsung mematikan televisi begitu foto mama dan Oom Dimas ditampilkan pada layar. Maura tahu belakangan mama dekat dengan Oom Dimas dikarenakan alasan bisnis. Saat Maura sedang merenungi hidupnya yang semakin berantakan, pintu kamarnya dibuka paksa. Terlihat mamanya dengan keringat yang bercucuran deras dan napas yang tersengal-sengal. Matanya menatap Maura meminta iba.
“Ma, Maura lagi pengen sendiri.”
“Kamu pasti udah denger berita. Kamu gak boleh percaya sama itu. Kamu harus percaya sama mama, wanita yang melahirkan kamu. Kamu harusnya tahu Maura, semua itu tadi bukan apa-apa.” Maura tetap diam di tempatnya dan menatap mamanya tanpa ekspresi.
Maura tersenyum sedih. “Bukan apa-apa tapi pelukan di tempat umum? Maura aja nggak pernah dipeluk. Ha ha.” Maura tertawa sarkatis. Mamanya kembali menggila. Ia kembali berteriak-teriak memanggil nama Maura dan menangis meraung-raung. Maura dengan santainya berjalan keluar kamar, menuju ke kamar tamu di sebelah kamarnya dan mengunci pintunya dengan kasar. Ia tahu hal seperti ini pasti akan terjadi suatu saat nanti.
“Sekarang mama tahu kan, rasanya diabaikan…” Maura berkata lirih dan berusaha tidur ketika suara papanya terdengar menggelegar di dalam rumah.
Sesudahnya hari-hari Maura terasa berjalan begitu lambat. Semua hal buruk dalam mimpi tergelapnya datang bertubi-tubi menimpa pundaknya. Mama dirawat di rumah sakit jiwa akibat guncangan mental yang dideritanya beberapa saat setelah berita perselingkuhan itu mucul ke permukaan. Papa pergi meninggalkan rumah di hari yang sama dan tidak pernah Maura lihat lagi. Orang-orang masih berpikir hidup Maura sempurna, sementara Maura tidak menginginkan apa-apa lagi selain keutuhan keluarganya kembali.
Ini sudah hari ketiga setelah mama dirawat di rumah sakit. Hari ini hati Maura akhirnya luluh dan memutuskan untuk menjenguk mama. Maura membawa bunga mawar dan sekotak puding karamel kesukaan mama. Begitu Maura tiba di kamar yang ditunjukkan oleh perawat, Maura tidak melihat siapa-siapa kecuali seorang wanita sedang terbaring dengan tangan dan kaki yang diikat kain. Dengan rambut acak-acakan dan pandangan yang kosong, setiap beberapa detik sekali ia selalu menggumamkan dua patah kata yang membuat hati Maura mencelos. “Maura, maaf.”
Dengan mata yang basah, Maura mendekati mamanya dan memeluknya erat sekali seperti tidak ingin kehilangan mama lagi.
“Mama, ini Maura. Maura bawa puding karamel.” Maura berkata pelan-pelan kepada mamanya dengan suara bergetar menahan tangis. Tangannya mengelus rambut mamanya penuh sayang, dan mengecup pipi mamanya pelan. Mama bereaksi sedikit, ditolehkannya kepala ke arah Maura.
“Maura, maaf.” Mama mengucapkan dua kata itu lagi dengan pandangan kosong. Maura meneteskan air matanya. “Mama udah Maura maafin.” Maura memeluk mamanya kembali.
“Maura, maaf.” Tangis Maura kembali pecah. Bahunya teguncang naik turun, napasnya tersengal-sengal. “Maura sayang mama!!” jerit Maura akhirnya sambil tetap memeluk mamanya.
Mama terdiam, badannya tersentak kaku. Air matanya mengalir perlahan. Dokter yang merawat mama berkata bahwa kesembuhan mama mungkin membutuhkan waktu yang lama. Jadi Maura tidak bisa berharap banyak untuk hari ini.
“Maura, Papa?” Kini giliran Maura yang tersentak kaget. Mama merubah kata-katanya. Sekarang Maura tahu mama pasti bisa sembuh. Maura tahu kini gilirannya yang harus bertindak sebagai orang dewasa. Ia hanya ingin keluarganya utuh kembali.
“Gila? Haha kalau bicara nggak usah ngawur, nak.” Kata papa sambil terus membaca koran. Hari ini papa pulang ke rumah dan Maura bisa bernapas sedikit lega.
“Papa kalau nggak percaya besok ikut Maura ya nengokin mama. Tolong pa…”
“Kamu udah papa bilangin berapa kali? Papa itu sibuk cari uang buat kamu sekolah.”
“Tapi ini mama, pa! Mama sakit! Mama butuh papa, butuh kita! Papa harusnya tau, kalau uang sama harta bukan segalanya. Saat kita nggak punya apa-apa lagi, semua hal akan pergi ninggalin kita kecuali keluarga, pa.” Maura sekuat tenaga berusaha menjelaskan hal yang selama ini ia pendam sendiri.
Papa membetulkan letak kacamata dan posisi duduknya, sehingga kini ia berhadap-hadapan dengan Maura.
“Nak, sebetulnya papa paham banget maksud kamu itu baik, tapi kenyataannya kamu nggak paham sama situasi sekarang. Ternyata kamu belum sepenuhnya ngerti tentang apa yang sebenarnya terjadi. Gini ya nak, saat kita disakiti oleh seseorang, apa yang seharusnya kita lakukan? Memaafkan dia kan? Papa juga gitu, nak. Waktu papa disakiti, dikecewain, ditinggalkan, papa berusaha ikhlas. Papa berdoa supaya papa bisa memaafkan mereka-mereka itu tanpa ada dendam sama sekali.
Tapi kalau kejadiannya lebih dari sekali, gimana? Sakit, ya? Makanya papa butuh waktu untuk menenangkan diri. Maafin papa ya kemarin bertindak seperti anak kecil, kabur dari rumah. Papa cuma nggak tahu harus gimana lagi.” papa mengelus-ngelus rambut Maura penuh sayang. Sementara Maura masih saja menatap papanya dengan mata yang menyipit, menuntut penjelasan lebih. Papa paham sekali akan hal ini. Ia menghela napas dengan berat sebelum akhirnya menjelaskan.
“Maura, papa hampir bangkrut nak. Sekitar tiga bulan yang lalu papa ditipu habis-habisan oleh klien dan rekan bisnis papa sendiri. Sejak itu papa berusaha terus biar bisnis papa tetep jalan, biar kamu sama mama tetep bisa hidup enak. Itu kenapa papa belum bisa liburan. Papa kerja siang malem dan jadi sibuk banget sampai-sampai nggak merhatiin kamu sama mama. Maafin papa ya? Lalu setelah semua yang sudah papa lakukan, sewaktu bisnis papa udah mulai pulih, apa yang papa dapet, nak? Kamu udah liat kan di tv? Jadi sewaktu kamu bilang ketika kita nggak punya apa-apa lagi, semua hal akan pergi ninggalin kita kecuali keluarga, papa nggak percaya.” Papa tersenyum sedih mengakhiri penjelasannya.
“Maura nggak ninggalin papa kok…” Maura merasa matanya panas. Saat tak mampu lagi menahan air matanya, ia menghambur ke pelukan papanya. Berulang kali meminta maaf dengan ucapan yang tidak terdengar jelas karena ia sedang menangis sesenggukan.
Hal yang paling membahagiakan bagi Maura hari itu adalah ketika ia tahu papa telah memaafkan mama. Entah bagaimana caranya, Maura tidak pernah paham mengapa papa punya hati sebesar dunia.
“Ayo, Maura. Keburu jam besuk habis.” Papa berteriak setengah memaksa.
“Iya, iya. Aku udah kok.” Maura sekali lagi menatap pantulan dirinya di cermin sebelum meyakinkan dirinya bahwa penampilannya sudah rapi.
“Dasar cewek, dandan lama sekali.” Papa terkekeh pelan lalu menggandeng putri semata wayangnya itu ke mobil. Maura yakin mama pasti senang.
Keadaan mama tidak jauh berbeda dari yang terakhir kali dilihat Maura. Rambutnya mama masih acak-acakan, pandangan matanya masih kosong, dan tangan serta kakinya masih terikat dengan kain yang Maura rasa cukup kuat. Maura menoleh ke sebelah kanannya dan yang membuat Maura ingin mengutuk dan memarahi mama adalah kedua bola mata papa yang basah. Papa berjalan pelan mendekati ranjang. Dielusnya rambut mama yang kusut itu.
“Halo, Rosa. Apa kabar?” dan bersamaan dengan itu air mata papa jatuh menetes mengenai muka mama. Mama terlihat terkejut dan menolehkan kepalanya.
“Maura, papa?” Maura tersenyum sedih mendengarnya. Ternyata mama masih belum ada mengalami perkembangan yang begitu berarti. Maura mendekati mama dan memegang tangannya.
“Itu papa, ma. Papa mau ngomong sama mama.” Maura menunjuk ke arah papa dan mama mengikuti arah pandangnya.
“Papa, maaf.” Kata-kata mama berganti namun pandangan matanya masih tetap kosong. Papa mengeluarkan air mata lebih banyak.
“Iya, papa udah maafin mama.” Papa lalu memeluk mama penuh rasa sayang dan Maura tak tahu lagi kemana rasa benci itu menguap.
Maura menangis dan ikut masuk kedalam pelukan kedua orang tuanya. Sekarang Maura bisa merasa bahagia di antara kedua orang tuanya setelah selama kurang lebih 10 tahun belakangan merasa jauh di antara mereka. Maura tak henti-hentinya mengucap syukur kepada Tuhan atas segala nikmat dan karunia-Nya. Walaupun keadaan mama belum memungkinkan untuk berkumpul bersama mereka, Maura yakin suatu saat mama bisa sembuh dan pulang ke rumah.
Saat jam besuk habis, dengan berat hati papa mengajak Maura pulang. Mereka mampir di kedai kue dekat rumah, kedai kue kesukaan mereka bertiga.
“Papa, ajarin Maura biar Maura punya hati sebesar papa.” Maura membuka pertanyaan setelah sekian detik yang sunyi.
Papa tersenyum, “Papa harus ngajarin apa ke kamu? Kamu malah yang udah ngajarin papa banyak hal. Kamu juga yang bikin papa sadar kalau ternyata selama ini sikap mama sama papa salah. Papa nggak tahu kalau ternyata kamu kesepian sekali.”
“Iya, yang itu emang betul. Maksud Maura, ajarin Maura biar Maura juga bisa maafin orang kayak papa yang udah maafin mama.”
“Maura Kalena, hal kayak gini harusnya nggak perlu diajarin. Ketika kamu sangat menyayangi seseorang, tak peduli berapa sering ia menyakitimu kamu pasti akan memaafkannya, cepat atau lambat. Semua hanya masalah waktu, nak. Tapi yang harus kamu ketahui, pasti akan tiba saatnya untuk membuat kita ikhlas memaafkan seseorang.”
Kini Maura paham betul arti cinta. Cinta adalah ketika kamu mampu memaafkan orang tersebut tidak peduli betapa sering ia menyakitimu. Cinta adalah ketika kamu menyayangi seseorang tanpa pernah berharap perasaanmu terbalas. Cinta adalah tentang pembuktian, bukan hanya deretan kata-kata gombal. Cinta itu seperti papa mencintai mama.
Menyandang nama belakang Irawan, hidup Maura Kalena bisa dikatakan mendekati kata sempurna. Bukan, bukan karena harta yang mereka miliki. Namun karena Maura punya mama dan papa yang baru belakangan ini Maura yakin sangat mencintainya.
Cerpen Karangan: Athaya Haidaranis Nadhira
Blog: athayandhr.blogspot.com
Aku memiliki tiga saudara aku adalah anak terakhir dari empat bersaudara. Ketiga kakakku ber’v*gina’ semua. Padahal sedari dulu ayah dan ibu mengharapkan bisa punya anak laki-laki. Setelah lahir anak pertama, ayah dan ibu masih merasakan suka cita karena akhirnya mereka punya anak dan lahir dengan sehat normal. Kakak pertama adalah anak kesayangan yang menyusul anak kedua dan juga ber’v*gina’. Harapan ibu sebelum melahirkan anak kedua adalah tetap sama, mengharapkan anak laki-laki. Sementara ayah kabarnya tidak terlalu pusing dengan jenis kelamin apa nanti anaknya lahir. Ibu mengharapkan anak laki-laki sebab kelak anak laki-laki tersebut akan mewarisi seluruh kekayaan dari kakek nenek yang hanya punya anak semata wayang yaitu ayah. Ibuku sedikit gila harta.
Di umur kakak pertama yang 5 tahun, kakak kedua 3 tahun, ibu mengandung lagi. Ibu dengan seluruh harapannya mengerahkan usaha hanya untuk memperoleh anak laki-laki. Setiap saat ibu tak pernah luput dari berdoa, siang malam dan begitu seterusnya. Ibu adalah seorang pegawai negeri sipil, ayah seorang Pustakawan dan juga penulis. Entah bagaimana mereka bertemu, hanya Tuhan yang tahu rahasia pertemuan mereka.
Di kehamilan ibu yang ketiga, ia sangat menjaga dirinya dan kandungannya. Karena tidak ingin terganggu konsentrasi pekerjaan dan urusan hamil hamil-an itu. Kedua kakakku dikirim ke rumah nenek di Kalimantan. Mereka di sana hingga menyelesaikan sekolah SMA. Ibu yang seorang PNS selalu sibuk dengan urusan ini dan itu. Ayah pun sama sibuknya di perpustakaan dan di ruangan kerjanya. Kadang mereka sama sekali tak bertemu dalam sehari. Bahkan ayah akan tertidur sampai pagi di ruang kerjanya, ketika ia sedang menyelesaikan beberapa tulisan.
Ibu sangat menyambut kehadiran kakak ketiga, sebab ia yakin betul bahwa kali ini anaknya pasti ber’p*nis’. Dalam hati ibu tersenyum puas dan bangga, tapi lagi-lagi kenyataan berbeda dengan apa yang sudah ibu harapkan. Kakak ketiga lahir dengan sebuah lubang. Ibu setelah melahirkan masih sangat lemas dan nyaris tak sanggup melihat wajah anak bayinya yang masih merah pink itu, apalagi terlahir dengan v*gina.
Ibu mogok makan. Tapi pada akhirnya harapan ibu kembali lagi. Ia bertekad untuk hamil lagi. Setelah kehamilan yang ketiga, ia berjanji akan melahirkan anaknya yang keempat. Ayah tentu tak masalah. Program bayi pun direncanakan, semua yang berbau medis atau magis pun diupayakan demi seorang anak yang ber’p*nis’ itu. Nasib kakak ketiga sama, ia kembali diungsikan ke rumah nenek lantaran ibu tak mampu mengurus anak dengan segala kesibukannya.
Di kehamilan keempat yang berarti akulah yang di kandung ibu, ibu semakin gencar melakukan beberapa pemeriksaan ke dokter bahkan sampai dukun. Ibu rela mengeluarkan budget yang lebih banyak lebih besar hanya untuk kehamilan keempat yang diharapkannya sebagai laki-laki. Ibu malah sengaja mengambil cuti hamil lebih dini dan memberikan sepenuhnya perhatian kepada aku yang masih dalam kandungan.
Setelah kehamilan ibu yang lumayan besar, ibu memeriksakan diri ke dokter. Tapi kabarnya, setiap kali melakukan CT-scan untuk ibu hamil, baik dokter mau pun ibu tak pernah tahu aku berjenis kelamin apa. Waktu itu kelaminku seperti terhalang benang-benang laba-laba. Jadilah dokter dan ibu dalam tanda tanya besar yang itu berarti sama sekali tidak memberikan jawaban atas kelamin apa aku ini.
Hingga kehamilan ibu berusia sembilan bulan, ibu merasakan keram dan sakit luar biasa di bagian perut dan kemaluannya. Itulah hari dimana aku lahir dari rahim ibu lewat v*ginanya. Dipenuhi rasa cemas, gelisah dan deg-degan ibu melahirkan aku di rumah sakit yang terbilang mahal. Setelah aku lahir dan ibu mengetahui bahwa jenis kelaminku bukanlah sebuah p*nis melainkan v*gina, saat itulah kebencian ibu mulai tumbuh. Kebencian ibu pada kelahiranku dan kebencian ibu terhadap v*ginaku.
Menurut ayah sedari lahir aku tak pernah disusui oleh ibu. Ibu bahkan tak ingin melihat wajahku. Ibu lumayan depresi dan terpaksa berhenti jadi PNS. Ibu juga tak pernah membacakan dongeng sebelum tidur atau nyanyian seperti nina bobo. Aku kesepian. Di ayunan aku diam, aku dirawat oleh seorang baby sitter yang disewa oleh ayah. Aku makan dan minum lewat baby sitter, mandi, buang air kecil atau besar semua dilakukan baby sitter. Akhirnya aku semakin jauh dari ibu dan hanya mengenal satu perempuan di dalam hidupku yaitu baby sitterku yang berhati lembut.
Ibu juga tidak pernah memasak untukku, bahkan aku sangsi bahwa ibu benar-benar bisa memasak. Hanya satu hal yang membuatku bersyukur adalah aku tidak dikirim ke rumah nenek di Kalimantan sama seperti ketiga kakakku. Aku tinggal di rumah bersama ayah dan ibu, satu atap meski jarang bertatap. Ayah sangat sayang padaku, ayah seringkali membawaku ke ruang kerjanya, ke perpustakaannya, kemana saja asal aku bisa senang dan jauh dari omelan ibu yang seperti tak akan pernah berakhir.
Kenyataan bahwa aku sama sekali tak mirip ibu dan ayah adalah hal menyakitkan buat aku. Ibu tentu saja semakin membenciku, bahkan tak menganggap bahwa aku ini adalah anak yang dilahirkan dari rahimnya sendiri, dari v*gina yang pada akhirnya justru ia tak menginginkannya sama sekali. Dengan ibu yang begitu membenci aku, aku jadi terbiasa sendiri dan tidak mempedulikan apapun di sekitar. Aku memiliki hidupku sendiri.
Semua menjadi puncaknya ketika ayah pada akhirnya meninggal setelah aku berumur 17 tahun. Aku kehilangan satu satunya tumpuan hidupku, satu-satunya orang yang paling menyayangi aku. Ayah meninggal di ruang kerjanya, barangkali saat ia bekerja atau menulis malaikat maut datang begitu saja dan mencabut nyawanya tanpa diketahui siapapun. Ketika itu, aku menangis lebih banyak dari biasanya. Aku mengurung diri selama berminggu-minggu dan tidak mendaftar ke perguruan Tinggi. Aku bersedih, kesedihan yang teramat dalam.
Karena tak tahan melihat aku mengurung diri terus-terusan, ibu mengusirku dari rumah. Dia tega melakukan itu. Barangkali hanya ibuku yang seperti itu di dunia ini. Tapi aku memaafkan semua itu bahkan tanpa ibu meminta maaf sekali pun. Bagaimana pun surga ada di telapak kaki ibu. Atas usiran ibu itu, aku resmi hidup di jalanan. Hidup sebagai apa saja yang aku inginkan, menjadi pengamen, menjadi preman, menjadi pemalak, bahkan menjadi seorang l*sbian.
Beberapa teman l*sbianku mempunyai latar belakang yang mirip denganku, tidak diterima dengan baik di dalam lingkar keluarganya. Atau karena mereka telah jera disakiti berkali kali oleh orang yang berp*nis. Kehidupanku semakin semrawut, aku tak pernah lagi mendengar kabar ibu, kabar kakak-kakakku atau kabar dari siapapun tentang keluargaku. Aku sempurna hidup sendiri di tengah rimba raya kota yang bahkan jauh lebih berbahaya ketimbang hutan liar sekalipun.
Aku mabuk-mabukan sepanjang hari, melakukan hubungan s*ksual dengan beberapa teman l*sbian, merok*k dan nark*tika. Aku melupakan diriku sendiri, aku sudah bukan lagi ‘aku’ yang sebenarnya. Kehidupan foya-foya itu berlangsung selama umurku hinggap di angka 27 tahun. Cukup lama. Duniaku dipenuhi bayangan hitam.
Sampai sekarang aku masih mengutuki siapapun yang memarginalkan setiap anak yang terlahir sebagai perempuan. Kenapa memang kalau ber’v*gina? Bukankah itu bagus untuk berkembang biak? Bukankah itu bagus untuk semakin menambah populasi dunia? Laki-laki, aku tidak membencinya, hanya saja aku menjadi tak diakui di keluargaku hanya karena terlahir sebagai perempuan. Atau karena aku ber’v*gina’.
Secara tidak sengaja, aku mendengar sebuah berita dari seseorang yang menemukanku di jalan. Ia mengatakan bahwa ibuku saat ini sedang sakit keras bahkan mungkin tak lama lagi akan meregang nyawa. Wajahku saat mendengar berita itu, datar-datar saja. Bahkan sempat tersenyum miris, mengakibatkan kepala tetanggaku itu bertanya-tanya.
Aku diajaknya ke sebuah pelataran mesjid, aku menunggu di luar sementara ia menyelesaikan sembahyang asharnya. Selama menunggu, di kepalaku sudah terngiang beberapa kali kalimat “ibu sakit”. Ah sudah lama sekali, aku tak pernah menyebut nama ibu. Bahkan nama itu sudah sangat asing di bibirku. Getir. Entah kenapa, tapi semua tentang ibu kembali terbayang di benakku, di kepalaku. Semua tentang kebencian ibu. Tak aku sadari, aku tiba-tiba menjadi orang cengeng dan merasakan hatiku pilu, sangaaat pilu.
Tetanggaku kembali menemuiku di pelataran mesjid. Ia berkali-kali menasehatiku, bahka secara kasar menyuruhku untuk pulang dan meninggalkan semua dunia ‘kotor’ yang sekarang kulakoni. Ya, dia menyebutnya dunia kotor. Aku tak menyangkal apapun, juga tak membenarkan apapun dari perkataannya. Barangkali hatiku sudah lama membeku, hingga tak mampu membedakan beberapa hal. Aku hanya melakukan apa yang ingin aku lakukan. Itu saja.
Selang beberapa waktu setelah pertemuan tak disengaja itu dengan tetangga, aku menyelinap malam-malam ke dekat rumah ibu. Mengintip di kejauhan. Kenangan masa kecilku kembali menguap di udara. Tentang ayah, tentang kemarahan ibu, tentang keputusannya mengusirku dan tentang semua yang sudah kulewati selama belasan tahun di rumah itu. Nampak suasana rumah teramat muram, lampu-lampu hanya menyala di beberapa tempat. Sangat tidak terurus dan menyimpan ribuan tanda tanya di benakku.
Aku mengintai selama beberap malam dan suatu ketika aku kepergok seseorang yang waktu itu hendak ke rumahku. Dia masih mengenali wajahku, melangkah teramat tergesa-gesa dan akhirnya menemukanku di balik belukar bunga-bunga yang tak terawat. “Masuklah!” Begitu katanya. Aku masih bergeming di tempatku berdiri. “Masuklah!” Berkali-kali ia merajukku untuk masuk dan berkali-kali itu pula jawabanku hanya diam terpaku di tempat yang sama.
Ibu-ibu itu pergi tanpa peduli lagi denganku, ia masuk ke dalam rumahku. Lalu tergopoh-gopoh kembali keluar rumah dan memanggil beberapa tetangga. Aku mendengar jeritan kakak perempuanku dari dalam rumah. Terjadi sesuatu, pikirku. Entah apa yang merasukiku, saat itu juga aku melompati belukar bunga-bunga itu dan menerobos pintu rumah lalu masuk. Mata ketiga kakakku terpana melihatku tiba-tiba berada di sana. Selama sekian detik mereka mangap lalu bersama-sama menutup mulutnya karena kaget.
Aku tak peduli lagi dengan kekagetan ketiga saudaraku. Aku menuju tempat di mana ibu terbaring. Ia begitu lemah, dadanya naik turun menghadapi maut. Barangkali akulah yang ditunggunya. Ibu ketika melihatku sama kagetnya dan lalu meraih tanganku. Ibu mengucapkan beberapa kalimat dari bibirnya yang sudah tidak terdengar dengan jelas. Tapi aku menangkapnya, menangkap suaranya yang perlahan mengucap “maafkan ibu, nak!”
Aku menangis di hadapannya, itu airmata terbanyakku setelah airmata untuk ayah. Aku bersimpuh di kakinya, menciumi kakinya. Lalu memeluknya untuk yang terakhir kali barangkali. Setelah aku mengucap “Maafkan aku, terlahir perempuan.” Ibu menangis semakin deras dan akhirnya menghembuskan nafasnya yang terakhir. Ibuku meninggal di malam ulang tahunku, di malam aku diusir dari rumah dan di malam aku kembali lagi ke rumah.
“Ibu… Maafkan aku, terlahir perempuan”.
Jingga Lestari
Di tulis dari atas sebuah mobil angkot pulang ke rumah.
18 agustus 2013
Cerpen Karangan: Jingga Lestari
Facebook: https://www.facebook.com/jinggalestari
Makassar, 26 Tahun



Jerry adalah seorang manager restoran di Amerika. Dia selalu dalam semangat yang baik dan selalu punya hal positif untuk dikatakan. Jika seseorang bertanya kepadanya tentang apa yang sedang dia kerjakan, dia akan selalu menjawab, " Jika aku dapat yang lebih baik, aku lebih suka menjadi orang kembar!"

Banyak pelayan di restorannya keluar jika Jerry pindah kerja, sehingga mereka dapat tetap mengikutinya dari satu restoran ke restoran yang lain. Alasan mengapa para pelayan restoran tersebut keluar mengikuti Jerry adalah karena sikapnya.

Jerry adalah seorang motivator alami. jika karyawannya sedang mengalami hari yang buruk, dia selalu ada di sana, memberitahu karyawan tersebut bagaimana melihat sisi positif dari situasi yang tengah dialami.
Melihat gaya tersebut benar-benar membuat aku penasaran, jadi suatu hari aku temui Jerry dan bertanya padanya, "Aku tidak mengerti! Tidak mungkin seseorang menjadi orang yang berpikiran positif sepanjang waktu.

Bagaimana kamu dapat melakukannya?" Jerry menjawab, "Tiap pagi aku bangun dan berkata pada diriku, aku punya dua pilihan hari ini. Aku dapat memilih untuk ada di dalam suasana yang baik atau memilih dalam suasana yang jelek. Aku selalu memilih dalam suasana yang baik. Tiap kali sesuatu terjadi, aku dapat memilih untuk menjadi korban atau aku belajar dari kejadian itu. Aku selalu memilih belajar dari hal itu. Setiap ada sesorang menyampaikan keluhan, aku dapat memilih untuk menerima keluhan mereka atau aku dapat mengambil sisi positifnya.. Aku selalu memilih sisi positifnya."

"Tetapi tidak selalu semudah itu," protesku. "Ya, memang begitu," kata Jerry, "Hidup adalah sebuah pilihan. Saat kamu membuang seluruh masalah, setiap keadaan adalah sebuah pilihan. Kamu memilih bagaimana bereaksi terhadap semua keadaan. Kamu memilih bagaimana orang-orang disekelilingmu terpengaruh oleh keadaanmu. Kamu memilih untuk ada dalam keadaan yang baik atau buruk. Itu adalah pilihanmu, bagaimana kamu hidup."

Beberapa tahun kemudian, aku dengar Jerry mengalami musibah yang tak pernah terpikirkan terjadi dalam bisnis restoran: membiarkan pintu belakang tidak terkunci pada suatu pagi dan dirampok oleh tiga orang bersenjata. Saat mencoba membuka brankas, tangannya gemetaran karena gugup dan salah memutar nomor kombinasi. Para perampok panik dan menembaknya. Untungnya, Jerry cepat ditemukan dan segera dibawa ke rumah sakit.

Setelah menjalani operasi selama 18 jam dan seminggu perawatan intensif, Jerry dapat meninggalkan rumah sakit dengan beberapa bagian peluru masih berada di dalam tubuhnya. Aku melihat Jerry enam bulan setelah musibah tersebut.

Saat aku tanya Jerry bagaimana keadaannya, dia menjawab, "Jika aku dapat yang lebih baik, aku lebih suka menjadi orang kembar. Mau melihat bekas luka-lukaku?" Aku menunduk untuk melihat luka-lukanya, tetapi aku masih juga bertanya apa yang dia pikirkan saat terjadinya perampokan.

"Hal pertama yang terlintas dalam pikiranku adalah bahwa aku harus mengunci pintu belakang," jawab Jerry. "Kemudian setelah mereka menembak dan aku tergeletak di lantai, aku ingat bahwa aku punya dua pilihan: aku dapat memilih untuk hidup atau mati. Aku memilih untuk hidup."

"Apakah kamu tidak takut?" tanyaku. Jerry melanjutkan, " Para ahli medisnya hebat. Mereka terus berkata bahwa aku akan sembuh. Tapi saat mereka mendorongku ke ruang gawat darurat dan melihat ekspresi wajah para dokter dan suster aku jadi takut. Mata mereka berkata 'Orang ini akan mati'. Aku tahu aku harus mengambil tindakan."

"Apa yang kamu lakukan?" tanya saya. "Disana ada suster gemuk yang bertanya padaku," kata Jerry. "Dia bertanya apakah aku punya alergi. 'Ya' jawabku..

Para dokter dan suster berhenti bekerja dan mereka menunggu jawabanku. Aku menarik nafas dalam-dalam dan berteriak, 'Peluru!' Ditengah tertawa mereka aku katakan, ' Aku memilih untuk hidup. Tolong aku dioperasi sebagai orang hidup, bukan orang mati'."

Jerry dapat hidup karena keahlian para dokter, tetapi juga karena sikapnya hidupnya yang mengagumkan. Aku belajar dari dia bahwa tiap hari kamu dapat memilih apakah kamu akan menikmati hidupmu atau membencinya.
Satu hal yang benar-benar milikmu yang tidak bisa dikontrol oleh orang lain adalah sikap hidupmu, sehingga jika kamu bisa mengendalikannya dan segala hal dalam hidup akan jadi lebih mudah.

Sumber : motivasi.net
Suatu ketika, ada seorang kakek yang harus tinggal dengan anaknya. Selain itu, tinggal pula menantu, dan anak mereka yang berusia 6 tahun. Tangan orangtua ini begitu rapuh, dan sering bergerak tak menentu. Penglihatannya buram, dan cara berjalannya pun ringkih. Keluarga itu biasa makan bersama di ruang makan. Namun, sang orangtua yang pikun ini sering mengacaukan segalanya. Tangannya yang bergetar dan mata yang rabun, membuatnya susah untuk menyantap makanan. Sendok dan garpu kerap jatuh ke bawah. Saat si kakek meraih gelas, segera saja susu itu tumpah membasahi taplak.
Anak dan menantunya pun menjadi gusar. Mereka merasa direpotkan dengan semua ini. “Kita harus lakukan sesuatu, ” ujar sang suami. “Aku sudah bosan membereskan semuanya untuk pak tua ini.” Lalu, kedua suami-istri ini pun membuatkan sebuah meja kecil di sudut ruangan. Disana, sang kakek akan duduk untuk makan sendirian, saat semuanya menyantap makanan. Karena sering memecahkan piring, keduanya juga memberikan mangkuk kayu untuk si kakek.
Sering, saat keluarga itu sibuk dengan makan malam mereka, terdengar isak sedih dari sudut ruangan. Ada airmata yang tampak mengalir dari gurat keriput si kakek. Namun, kata yang keluar dari suami-istri ini selalu omelan agar ia tak menjatuhkan makanan lagi. Anak mereka yang berusia 6 tahun memandangi semua dalam diam.
Suatu malam, sebelum tidur, sang ayah memperhatikan anaknya yang sedang memainkan mainan kayu. Dengan lembut ditanyalah anak itu. “Kamu sedang membuat apa?”. Anaknya menjawab, “Aku sedang membuat meja kayu buat ayah dan ibu untuk makan saatku besar nanti. Nanti, akan kuletakkan di sudut itu, dekat tempat kakek biasa makan.” Anak itu tersenyum dan melanjutkan pekerjaannya.
Jawaban itu membuat kedua orangtuanya begitu sedih dan terpukul. Mereka tak mampu berkata-kata lagi. Lalu, airmatapun mulai bergulir dari kedua pipi mereka. Walau tak ada kata-kata yang terucap, kedua orangtua ini mengerti, ada sesuatu yang harus diperbaiki. Malam itu, mereka menuntun tangan si kakek untuk kembali makan bersama di meja makan. Tak ada lagi omelan yang keluar saat ada piring yang jatuh, makanan yang tumpah atau taplak yang ternoda. Kini, mereka bisa makan bersama lagi di meja utama.
~Author Unknown ~
Sahabat, anak-anak adalah persepsi dari kita. Mata mereka akan selalu mengamati, telinga mereka akan selalu menyimak, dan pikiran mereka akan selalu mencerna setiap hal yang kita lakukan. Mereka ada peniru. Jika mereka melihat kita memperlakukan orang lain dengan sopan, hal itu pula yang akan dilakukan oleh mereka saat dewasa kelak. Orangtua yang bijak, akan selalu menyadari, setiap “bangunan jiwa” yang disusun, adalah pondasi yang kekal buat masa depan anak-anak.
Mari, susunlah bangunan itu dengan bijak. Untuk anak-anak kita, untuk masa depan kita, untuk semuanya. Sebab, untuk mereka lah kita akan selalu belajar, bahwa berbuat baik pada orang lain, adalah sama halnya dengan tabungan masa depan.
Sumber : resensi.net

Disuatu desa yang sejuk dan nyaman. hiduplah dua sahabat kecil,namanya keri dan kanci. mereka berdua sedang menikati hangatnya cahaya matahari yang terasa hangat menyentuh mereka di balik pepohonan. tiba – tiba muncul ide iseng di kepala si keri untuk mengajak si kanci berlomba membuktikan diri,siapa yang lebih hebat diantara mereka berdua.Karna merasa tertantang akhirnya si kancipun menerima tantangan temannya. keri yang merasa lebih hebat dalam memanjat langsung mengajak sahabatnya menemui si tucil (tupai kecil) yang tinggal di batang pohon “inspirasi” dan berniat menjadikannya sebagai juri. begitu tiba di tempat tupi,mereka menyampaikan maksud kedatangan mereka untuk menjadikannya sebagai juri dalam perlombaan yang mereka rencanakan.Karna tidak tahu maksud kedua temannya si tupi asal saja berkata “baiklah,siapa yang lebih dulu mencapai puncak pohon inspirasi ini akan diakui sebagai orang hebat.” si keri langsung melompat dan tidak lama dia melambai – lambai kebawah dengan tatapn mengejek. kanci yang tidak bisa memanjat pohon inspirasi langsung protes dan mengajak temannya untuk mangadakan pertandingan ulang! dengan menjadikan paku (pak kuda) sebagai jurinya.Pak kuda yang tinggal di lereng gunung motivasi terkaget – kaget mendengar ide jahil mereka berdua. lalu dengan asal saja paku mengatakan “baiklah,siapa yang lebih dulu mencapai puncak gunung “motivasi” ini,akan diaku sebagai yang terhebat” tanpa pikir panjang si kanci berlari secepat -cepatnya. setiba di atas dia berteriak kebawah dan melambaikan kakinya dengan tatapan yang tak kalah mengejek.Pak beruang yang sedari tadi memperhatikan tingkah dua warga hutan itu mendekat dan bicara pada mereka berdua “kalian sedang apa si?” keri yang merasa di kalahkan menjawab “si kanci tu pak,masa ngajak saya lari ke puncak gunung motivasi. yah mana kuat saya mengejarnya? ” si kanci yang merasa tidak begitu ceritanya langsung protes “gak koq pak,si keri tu yang ngajak lomba,tadi dia ngajak saya lomba manjat pohon inspirasi. yah jelas saya kalah lah.”Pak beruang langsung mengerti duduk masalahnya,dan berkata “kalian lihat pulau di kaki gunung motivasi itu?” mereka berdua serentak menjawab “iya pak.”“baiklah,bagaimana kalo kalian berdua berlomba mencapai pulau itu dan siapa yang bisa mengambil buah inspirasi di pohonnya yang ada di pulai itu,dia yang menang! setuju?” setelah keduanya meng-iya-kan pak beruang langsung menghitung “1… 2… 3…”mereka berdua pun langsung berlari secepat – cepatnya untuk mencapai pulau di kaki gunung motivasi dan memetik buah diatas pohon inspirasi seperti mana di nyatakan oleh pak beruang.Kancil dengan gesit menyebrangi sungau kecil yang terbentang antara pulai kecil dan gunung motivasi dengan melompat2 kecil. sementara si keri tertinggal karna tidak ada dahan yang bisa di jadikan ayunan untuk menyebrang ke pulau itu.sesampainya di sebrang pulau si kanci malah bingung sendiri. bagaimana caranya memetik buah inspirasi yang tergantung tinggi itu? pada saat yang bersamaan si keri berteriak pada sahabatnya “kanci,jemput aku disini! dan aku akan mengambilkan buah inspirasi itu untuk kamu!” kanci berpikir sejenak. setelah yakin untuk menjemput keri diapun melompat dan menjemput temannya disebrang. keri menaiki punggung kanci dan mereka berdua pun sampai di pulau sebrang. sesuai janjinya keri memanjat pohon itu untuk sahabatnya!.Di kejauhan pak beruang bertepuk riang menyaksikan kerja sama mereka berdua! “kalian sudah liat sendiri? kalian berdua berbeda dan masing – masing memiliki peran yang uniq dalam tim! kita tidak bicara siapa yang terhebat diantara kita. tapi bagaimana mengorganisir semua kelebihan kita untuk dijadikan sebuah kekuatan yang tidak terkalahkan!”Si kanci dan keri pun sadar bahwa kerja sama tim harus lebih diutamakan. mereka berdua bersalaman,kembali ke bawah pohon dan menikati hangatnya cahaya matahari. :)Sumber : motivasidiri.net



Pada malam itu, Ana bertengkar dengan ibunya. Karena sangat marah, Ana segera meninggalkan rumah tanpa membawa apapun. Saat berjalan di suatu jalan, ia baru menyadari bahwa ia sama sekali tdk membawa uang.
Saat menyusuri sebuah jalan, ia melewati sebuah kedai bakmi dan ia mencium harumnya aroma masakan. Ia ingin sekali memesan
semangkuk bakmi, tetapi ia tdk mempunyai uang.
Pemilik kedai melihat Ana berdiri cukup lama di depan kedainya, lalu berkata “Nona, apakah engkau ingin memesan semangkuk bakmi?” ” Ya, tetapi, aku tdk membawa uang” jawab Ana dengan malu-malu
“Tidak apa-apa, aku akan mentraktirmu” jawab si pemilik kedai. “Silahkan duduk, aku akan memasakkan bakmi untukmu”.
Tidak lama kemudian, pemilik kedai itu mengantarkan semangkuk bakmi. Ana segera makan beberapa suap, kemudian air matanya mulai berlinang. “Ada apa nona?”
Tanya si pemilik kedai.
“tidak apa-apa” aku hanya terharu jawab Ana sambil mengeringkan air matanya.
“Bahkan, seorang yang baru kukenal pun memberi aku semangkuk bakmi !, tetapi,? ibuku sendiri, setelah bertengkar denganku, mengusirku dari rumah dan mengatakan kepadaku agar jangan kembali lagi ke rumah”
“Kau, seorang yang baru kukenal, tetapi begitu peduli denganku dibandingkan dengan ibu kandungku sendiri” katanya kepada pemilik kedai.
Pemilik kedai itu setelah mendengar perkataan Ana, menarik nafas panjang dan berkata “Nona mengapa kau berpikir seperti itu? Renungkanlah hal ini, aku hanya memberimu semangkuk bakmi dan kau begitu terharu. Ibumu telah memasak bakmi dan nasi untukmu saat kau kecil sampai saat ini, mengapa kau tidak berterima kasih kepadanya? Dan kau malah bertengkar dengannya”
Ana, terhenyak mendengar hal tsb. “Mengapa aku tdk berpikir ttg hal tsb? Utk semangkuk bakmi dr org yg baru kukenal, aku begitu
berterima kasih, tetapi kepada ibuku yg memasak untukku selama bertahun-tahun, aku bahkan tidak memperlihatkan kepedulianku kepadanya. Dan hanya karena persoalan sepele, aku bertengkar dengannya.
Ana, segera menghabiskan bakminya, lalu ia menguatkan dirinya untuk segera pulang ke rumahnya. Saat berjalan ke rumah, ia memikirkan kata-kata yg hrs diucapkan kpd ibunya. Begitu sampai di ambang pintu rumah, ia melihat ibunya dengan wajah letih dan cemas. Ketika bertemu dengan Ana, kalimat pertama yang keluar dari mulutnya adalah “Ana kau sudah pulang, cepat masuklah, aku
telah menyiapkan makan malam dan makanlah dahulu sebelum kau tidur, makanan akan menjadi dingin jika kau tdk memakannya sekarang”. Pada saat itu Ana tdk dapat menahan tangisnya dan ia menangis dihadapan ibunya.
Sekali waktu, kita mungkin akan sangat berterima kasih kpd org lain disekitar kita untuk suatu pertolongan kecil yang diberikan
kepada kita. Tetapi kpd org yang sangat dekat dengan kita (keluarga) khususnya orang tua kita, kita harus ingat bahwa kita berterima kasih kepada mereka seumur hidup Kita.
RENUNGAN:
BAGAIMANAPUN KITA TIDAK BOLEH MELUPAKAN JASA ORANG TUA KITA.
SERINGKALI KITA MENGANGGAP PENGORBANAN MEREKA MERUPAKAN SUATU PROSES
ALAMI YANG BIASA SAJA; TETAPI KASIH DAN KEPEDULIAN ORANG TUA KITA ADALAH
HADIAH PALING BERHARGA YANG DIBERIKAN KEPADA KITA SEJAK KITA LAHIR.
PIKIRKANLAH HAL ITU??
APAKAH KITA MAU MENGHARGAI PENGORBANAN TANPA SYARAT DARI ORANG TUA KITA?
HAI ANAK-ANAK, TAATILAH ORANG TUAMU DALAM SEGALA HAL, KARENA ITULAH YANG INDAH DIDALAM TUHAN.

Sumber : motivation-live.blogspot.com



Mungkin banyak yang tahu wujud kepiting, tapi tidak banyak yang tahu sifat
kepiting. Semoga Anda tidak memiliki sifat kepiting yang dengki.
Di Filipina, masyarakat pedesaan gemar sekali menangkap dan memakan
kepiting sawah.
Kepiting itu ukurannya kecil namun rasanya cukup lezat. Kepiting-kepiting itu dengan mudah ditangkap di malam hari, lalu dimasukkan ke dalam baskom/wadah, tanpa diikat.
Keesokkan harinya, kepiting-kepiting ini akan direbus dan lalu disantap
untuk lauk selama beberapa hari. Yang paling menarik dari kebiasaan
ini, kepiting-kepiting itu akan selalu berusaha untuk keluar dari baskom,
sekuat tenaga mereka, dengan menggunakan capit-capitnya yang kuat.
Namun seorang penangkap kepiting yang handal selalu tenang meskipun hasil
buruannya selalu berusaha meloloskan diri.
Resepnya hanya satu, yaitu si pemburu tahu betul sifat si kepiting.
Bila ada seekor kepiting yang hampir meloloskan diri keluar dari baskom,
teman-temannya pasti akan menariknya lagi kembali ke dasar.
Jika ada lagi yang naik dengan cepat ke mulut baskom, lagi-lagi temannya
akan menariknya turun… dan begitu seterusnya sampai akhirnya tidak ada yang berhasil keluar.
Keesokan harinya sang pemburu tinggal merebus mereka semua dan matilah
sekawanan kepiting yang dengki itu.
Begitu pula dalam kehidupan ini…
tanpa sadar kita juga terkadang menjadi seperti kepiting-kepiting itu.
Yang seharusnya bergembira jika teman atau saudara kita mengalami
kesuksesan kita malahan mencurigai, jangan-jangan kesuksesan itu diraih
dengan jalan yang nggak bener.
Apalagi di dalam bisnis atau hal lain yang mengandung unsur kompetisi,
sifat iri, dengki, atau munafik akan semakin nyata dan kalau tidak segera
kita sadari tanpa sadar kita sudah membunuh diri kita sendiri.
Kesuksesan akan datang kalau kita bisa menyadari bahwa di dalam bisnis atau
persaingan yang penting bukan siapa yang menang, namun terlebih penting
dari itu seberapa jauh kita bisa mengembangkan diri kita seutuhnya.
Jika kita berkembang, kita mungkin bisa menang atau bisa juga kalah dalam
suatu persaingan, namun yang pasti kita menang dalam kehidupan ini.
Pertanda seseorang adalah ‘kepiting’:
1. Selalu mengingat kesalahan pihak luar (bisa orang lain atau situasi)
yang sudah lampau dan menjadikannya suatu prinsip/pedoman dalam
bertindak
2. Banyak mengkritik tapi tidak ada perubahan
3. Hobi membicarakan kelemahan orang lain tapi tidak mengetahui kelemahan
dirinya sendiri sehingga ia hanya sibuk menarik kepiting-kepiting yang
akan keluar dari baskom dan melupakan usaha pelolosan dirinya sendiri.
..Seharusnya kepiting-kepiting itu tolong-menolong keluar dari baskom,
namun yah… dibutuhkan jiwa yang besar untuk melakukannya…
Coba renungkan berapa waktu yang Anda pakai untuk memikirkan cara-cara
menjadi pemenang. Dalam kehidupan sosial, bisnis, sekolah, atau agama.
Dan gantilah waktu itu untuk memikirkan cara-cara pengembangan diri Anda
menjadi pribadi yang sehat dan sukses.


Sumber : motivation-live.blogspot.com



Pembaca, jangan meremehkan imajinasi. Imajinasi bukanlah gambaran kosong atau angan-angan tanpa isi. Sejarah telah membuktikan banyak tokoh terkenal menjadi besar berkat imajinasinya yang luar biasa. Imajinasi ternyata mempunyai kekuatan. Albert Einstein pernah mengatakan, “Energi mengikuti imajinasi”. Tentu saja, Einstein serius dengan ucapannya. Apalagi Einstein mengamini hukum kekekalan energi. Dia sendiri mengaku telah membuktikannya saat dia ditanya bagaimana dia mampu menghasilkan begitu banyak teori spektakuler, dia menjawab imajinasinyalah yang menjadi salah satu bahan bakar dari idenya itu.
Lantas, bagaimanakah imajinasi yang dihasilkan pikiran kita bekerja?Pada prinsipnya, perlu Anda sadari, pikiran kita adalah sebuah
magnet yang luar biasa. Pikiran kita mampu menjadi otopilot atas apa yang ingin kita wujudkan, yang kita cita-citakan bahkan yang sekadar kita imajinasikan.
Setiap orang boleh mempunyai mimpi akan masa depan. Mimpi menjadi seorang penulis hebat, misalnya, atau menjadi sastrawan, insinyur, dokter, dan sebagainya. Dalam perwujudan mimpi inilah kekuatan imajinasi berperan. Sekali kita merencanakan dan mematrikan imajinasi dalam pikiran kita, fisik kita pun mulai mencari jalan bagaimana merealisasikan apa yang sudah kita pikirkan.
Untuk mudahnya, pembaca, ada dua kisah tentang kekuatan imajinasi yang ingin saya ceritakan di sini. Pertama, kisah hidup Mayor James Nesmeth, seorang tentara yang doyan main golf. Dia begitu tergila-gila dengan golf. Tapi sayang sekali, sebelum menikmati kesempatan itu, dia ditugaskan ke Vietnam Utara.
Sungguh sial, saat di Vietnam dia ditangkap oleh tentara musuh dan dijebloskan ke penjara yang pengap dan sempit. Dia tidak diberi kesempatan untuk berinteraksi dengan siapa pun. Situasi pengap, kosong, dan beku itu sungguh menjadi siksaan fisik dan mental yang meletihkan baginya.
Untungnya, Nesmeth sadar dirinya harus menjaga pikirannya agar tidak sinting. Dia mulai berlatih mental. Setiap hari, dengan
imajinasinya, dia membayangkan dirinya berada di padang golf yang indah dan memainkan golf 18 hole. Dia berimajinasi secara detail. Dia melakukannya rata-rata empat jam sehari selama tujuh tahun.
Lantas, tujuh tahun kemudian, dia pun dibebaskan dari penjara. Namun, ada yang menarik saat dia mulai bermain golf kembali untuk
pertama kalinya. Ternyata, Mayor James Nesmeth mampu mengurangi rata-rata 20 pukulan dari permainannya dulu. Orang-orang pun bertanya kepada siapa dia berlatih. Tentu saja, tidak dengan siapa pun. Yang jelas, dia hanya bermain dengan imajinasinya. Tetapi, ternyata itu berdampak pada hasil kemampuannya. Nah, inilah kekuatan imajinasi itu.
Kisah kedua adalah cerita tentang Tara Holland, seorang gadis yang bermimpi menjadi Miss America sejak kecil. Pada 1994, dia berusaha menjajaki menjadi Miss Florida. Sayangnya, dia hanya menyabet runner-up pertama. Tahun berikutnya dia mencoba, tapi lagi-lagi hanya di posisi yang sama. Hati kecilnya mulai membisikkan dirinya untuk berhenti.
Bulatkan tekad
Tapi, dia bangkit dan membulatkan tekadnya lagi. Dia pindah ke negara bagian lain, Kansas. Pada 1997, dia terpilih menjadi Miss
Kansas. Dan di tahun yang sama, dia berhasil menjadi Miss America! Yang menarik, adalah saat Tara diwawancarai setelah kemenangannya, Tara menceritakan bagaimana dia sudah ingin menyerah setelah dua kali kalah di Florida.
Tapi, tekadnya sudah bulat. Selama beberapa tahun kemudian, dia membeli video dan semua bahan yang bisa dipelajari tentang Miss Pagent, Miss Universe, Miss America, dan sebagainya. Dia melihatnya berkali-kali. Setiap kali melihat para diva meraih penghargaan tertinggi, Tara membayangkan dirinyalah yang menjadi pemenangnya.
Satu lagi yang menarik dari wawancaranya adalah saat dia ditanya apakah dia merasa canggung saat berjalan di atas karpet merah. Dengan mantap, Tara Holland menjawab, “Tidak sama sekali. Anda mesti tahu saya sudah ribuan kali berjalan di atas panggung itu.”
Seorang reporter menyela dan bertanya bagaimana mungkin dia sudah berjalan ribuan kali di panggung, sementara dia baru pertama kalinya mengikuti kontes. Tara menjawab, “Saya sudah berjalan ribuan kali di panggung itu…dalam pikiran saya.”
Pembaca, dua kisah nyata di atas menceritakan tentang kekuatan imajinasi. Kita memujudkan apa yang kita lihat dalam pikiran kita.
Imajinasi adalah energi. Energi yang kalau diolah terus-menerus akan mewujud dalam apa yang kita imajinasikan itu.
Kekuasaan boleh memenjarakan fisik, membungkam mulut, tetapi sama sekali tidak bisa memasung imajinasi kita. Dengan kekuatan
imajinasi, masa depan akan menjadi milik kita sesuai yang kita cita-citakan.
Dengan imajinasi, kita bisa menjadi tuan atas takdir kita, I am the master of my fate. Stephen Covey dalam 7 Habits mengatakan kita membuat kreasi mental lebih dulu sebelum kreasi fisiknya.
Semakin kuat gambaran mental yang kita miliki, semakin besar energi yang kita miliki untuk mewujudkannya. Sebaliknya, jika kita terlalu banyak membayangkan yang buruk dan negatif, kita menarik energi negatif dan kita semakin ter-demotivasi untuk meraihnya.
Pepatah Latin mengatakan, Fortis imaginatio generat casum, artinya imajinasi yang jelas menghasilkan kenyataan. Dengan demikian, jangan sia-siakan kekuatan imajinasi dalam diri kita. Imajinasi mampu menjadi kendaraan kita menuju apa saja yang kita mimpi dan cita-citakan.
Imajinasi akan mengumpulkan seluruh energi kita untuk mewujudkannya. Dalam aplikasi sehari-hari, dengan imajinasi, kita membayangkan hal-hal positif yang akan kita lakukan dan membayangkan hal-hal positif yang akan terjadi. Betapa kita akan melihat langkah dan tindakan kita mulai mengarah pada apa yang kita bayangkan. Dan…the dreams will come true!
Sumber : motivation-live.blogspot.com



Seperti biasa Rudi, kepala cabang di sebuah perusahaan swasta terkemuka di Jakarta, tiba di rumahnya pada pukul 9 malam. Tidak seperti biasanya, Imron, putra pertamanya yang baru duduk di kelas dua SD yang membukakan pintu. Ia nampaknya sudah menunggu cukup lama.
“Kok, belum tidur?” sapa Rudi sambil mencium anaknya.
Biasanya, Imron memang sudah lelap ketika ia pulang dan baru terjaga ketika ia akan berangkat ke kantor pagi hari.
Sambil membuntuti sang ayah menuju ruang keluarga, Imron menjawab, “Aku nunggu Ayah pulang. Sebab aku mau tanya berapa sih gaji Ayah?”
“Lho, tumben, kok nanya gaji Ayah? Mau minta uang lagi, ya?”
“Ah, enggak. Pengen tahu aja.”
“Oke. Kamu boleh hitung sendiri. Setiap hari Ayah bekerja sekitar 10 jam dan dibayar Rp 400.000,-. Dan setiap bulan rata-rata dihitung 25 hari kerja, Jadi, gaji Ayah dalam satu bulan berapa, hayo?”
Imron berlari mengambil kertas dan pensilnya dari meja belajar, sementara ayahnya melepas sepatu dan menyalakan televisi. Ketika Rudi beranjak menuju kamar untuk berganti pakaian, Imron berlari mengikutinya.
“Kalau satu hari ayah dibayar Rp 400.000,- untuk 10 jam, berarti satu jam ayah digaji Rp 40.000,- dong,” katanya.
“Wah, pinter kamu. Sudah, sekarang cuci kaki, bobok,” perintah Rudi.
Tetapi Imron tak beranjak.
Sambil menyaksikan ayahnya berganti pakaian, Imron kembali bertanya, “Ayah, aku boleh pinjam uang Rp 5.000,- nggak?”
“Sudah, nggak usah macam-macam lagi. Buat apa minta uang malam-malam begini? Ayah capek. Dan mau mandi dulu. Tidurlah.”
“Tapi, Ayah…” Kesabaran Rudi habis.
“Ayah bilang tidur!” hardiknya mengejutkan Imron.
Anak kecil itu pun berbalik menuju kamarnya. Usai mandi, Rudi nampak menyesali hardikannya, Ia pun menengok Imron di kamar tidurnya. Anak kesayangannya itu belum tidur. Imron didapatinya sedang terisak-isak pelan sambil memegang uang Rp 15.000,- di tangannya.
Sambil berbaring dan mengelus kepala bocah kecil itu, Rudi berkata, “Maafkan Ayah, Nak. Ayah sayang sama Imron. Buat apa sih minta uang malam-malam begini? Kalau mau beli mainan, besok’ kan bisa. Jangankan Rp 5.000 ,- lebih dari itu pun ayah kasih.”
“Ayah, aku nggak minta uang. Aku pinjam. Nanti aku kembalikan kalau sudah menabung lagi dari uang jajan selama minggu ini.”
“Iya, iya, tapi buat apa?” tanya Rudi lembut.
“Aku menunggu Ayah dari jam 8. Aku mau ajak Ayah main ular tangga. Tiga puluh menit saja. Ibu sering bilang kalau waktu Ayah itu sangat berharga. Jadi, aku mau beli waktu ayah. Aku buka tabunganku, ada Rp 15.000,-. Tapi karena Ayah bilang satu jam Ayah dibayar Rp 40.000,-, maka setengah jam harus Rp 20.000,-. Duit tabunganku kurang Rp 5.000,-. Makanya aku mau pinjam dari Ayah,” kata Imron polos.
Rudi terdiam. Ia kehilangan kata-kata. Dipeluknya bocah kecil itu erat-erat.
Sumber : motivation-live.blogspot.com




Suatu ketika, tersebutlah seorang raja yang kaya raya. Kekayaannya sangat melimpah. Emas, permata, berlian, dan semua batu berharga telah menjadi miliknya. Tanah kekuasaannya, meluas hingga sejauh mata memandang. Puluhan istana, dan ratusan pelayan siap menjadi hambanya.
Karena ia memerintah dengan tangan besi, apapun yang diinginkannya hampir selalu diraihnya. Namun, semua itu tak membuatnya merasa cukup. Ia selalu merasa kekurangan. Tidurnya tak nyenyak, hatinya selalu merasa tak bahagia. Hidupnya, dirasa sangatlah menyedihkan.

Suatu hari, dipanggillah salah seorang prajurit tebaiknya. Sang Raja lalu berkata, “Aku telah punya banyak harta. Namun, aku tak pernah merasa bahagia. Karena itu, ujar sang raja, “aku akan memerintahkanmu untuk memenuhi keinginanku. Pergilah kau ke seluruh penjuru negeri, dari pelosok ke pelosok, dan temukan orang yang paling berbahagia di negeri ini. Lalu, bawakan pakaiannya kepadaku.”
“Carilah hingga ujung-ujung cakrawala dan buana. Jika aku bisa mendapatkan pakaian itu, tentu, aku akan dapat merasa bahagia setiap hari. Aku tentu akan dapat membahagiakan diriku dengan pakaian itu. Temukan sampai dapat! ” perintah sang Raja kepada prajuritnya. “Dan aku tidak mau kau kembali tanpa pakaian itu. Atau, kepalamu akan kupenggal !!
Mendengar titah sang Raja, prajurit itupun segera beranjak. Disiapkannya ratusan pasukan untuk menunaikan tugas. Berangkatlah mereka mencari benda itu. Mereka pergi selama berbulan-bulan, menyusuri setiap penjuru negeri. Seluas cakrawala, hingga ke ujung-ujung buana, seperti perintah Raja. Di telitinya setiap kampung dan desa, untuk mencari orang yang paling berbahagia, dan mengambil pakaiannya.
Sang Raja pun mulai tak sabar menunggu. Dia terus menunggu, dan menunggu hingga jemu. Akhirnya, setelah berbulan-bulan pencarian, prajurit itu kembali. Ah, dia berjalan tertunduk, merangkak dengan tangan dan kaki di lantai, tampak seperti sedang memohon ampun pada Raja. Amarah Sang Raja mulai muncul, saat prajurit itu datang dengan tangan hampa.
“Kemari cepat!!. “Kau punya waktu 10 hitungan sebelum kepalamu di penggal. Jelaskan padaku mengapa kau melanggar perintahku. Mana pakaian kebahagiaan itu!” gurat-gurat kemarahan sang raja tampak memuncak.
Dengan airmata berlinang, dan badan bergetar, perlahan prajurit itu mulai angkat bicara. “Duli tuanku, aku telah memenuhi perintahmu. Aku telah menyusuri penjuru negeri, seluas cakrawala, hingga ke ujung-ujung buana, untuk mencari orang yang paling berbahagia. Akupun telah berhasil menemukannya.
Kemudian, sang Raja kembali bertanya, “Lalu, mengapa tak kau bawa pakaian kebahagiaan yang dimilikinya?
Prajurit itu menjawab, “Ampun beribu ampun, duli tuanku, orang yang paling berbahagia itu, TIDAK mempunyai pakaian yang bernama kebahagiaan.”
***
Teman, bisa jadi, memang tak ada pakaian yang bernama kebahagiaan. Sebab, kebahagiaan, seringkali memang tak membutuhkan apapun, kecuali perasaan itu sendiri. Rasa itu hadir, dalam bentuk-bentuk yang sederhana, dan dalam wujud-wujud yang bersahaja.
Seringkali memang, kebahagiaan tak di temukan dalam gemerlap harta dan permata. Seringkali memang, kebahagiaan, tak hadir dalam indahnya istana-istana megah. Dan ya, kebahagiaan, seringkali memang tak selalu ada pada besarnya penghasilan kita, mewahnya rumah kita, gemerlap lampu kristal yang kita miliki, dan indahnya jalinan sutra yang kita sandang.
Seringkali malah, kebahagiaan hadir pada kesederhanaan, pada kebersahajaan. Seringkali rasa itu muncul pada rumah-rumah kecil yang orang-orang di dalamnya mau mensyukuri keberadaan rumah itu. Seringkali, kebahagiaan itu hadir, pada jalin-jemalin syukur yang tak henti terpanjatkan pada Ilahi.
Sebab, teman, kebahagiaan itu memang adanya di hati, di dalam kalbu ini. Kebahagiaan, tak berada jauh dari kita, asalkan kita mau menjumpainya. Ya, asalkan kita mau mensyukuri apa yang kita punyai, dan apa yang kita miliki.

Sumber : resensi.net



Seorang tukang kayu tua bermaksud pensiun dari pekerjaannya di sebuah perusahaan konstruksi real estate. Ia menyampaikan keinginannya tersebut pada pemilik perusahaan. Tentu saja, karena tak bekerja, ia akan kehilangan penghasilan bulanannya, tetapi keputusan itu sudah bulat. Ia merasa lelah. Ia ingin beristirahat dan menikmati sisa hari tuanya dengan penuh kedamaian bersama istri dan keluarganya.
Pemilik perusahaan merasa sedih kehilangan salah seorang pekerja terbaiknya. Ia lalu memohon pada tukang kayu tersebut untuk membuatkan sebuah rumah untuk dirinya.
Tukang kayu mengangguk menyetujui permohonan pribadi pemilik perusahaan itu. Tapi, sebenarnya ia merasa terpaksa. Ia ingin segera berhenti. Hatinya tidak sepenuhnya dicurahkan. Dengan ogah-ogahan ia mengerjakan proyek itu. Ia cuma menggunakan bahan-bahan sekedarnya. Akhirnya selesailah rumah yang diminta. Hasilnya bukanlah sebuah rumah baik. Sungguh sayang ia harus mengakhiri kariernya dengan prestasi yang tidak begitu mengagumkan.
Ketika pemilik perusahaan itu datang melihat rumah yang dimintanya, ia menyerahkan sebuah kunci rumah pada si tukang kayu. “Ini adalah rumahmu, ” katanya, “hadiah dari kami.”
Betapa terkejutnya si tukang kayu. Betapa malu dan menyesalnya. Seandainya saja ia mengetahui bahwa ia sesungguhnya mengerjakan rumah untuk dirinya sendiri, ia tentu akan mengerjakannya dengan cara yang lain sama sekali. Kini ia harus tinggal di sebuah rumah yang tak terlalu bagus hasil karyanya sendiri.
Itulah yang terjadi pada kehidupan kita. Kadangkala, banyak dari kita yang membangun kehidupan dengan cara yang membingungkan. Lebih memilih berusaha ala kadarnya ketimbang mengupayakan yang baik. Bahkan, pada bagian-bagian terpenting dalam hidup kita tidak memberikan yang terbaik. Pada akhir perjalanan kita terkejut saat melihat apa yang telah kita lakukan dan menemukan diri kita hidup di dalam sebuah rumah yang kita ciptakan sendiri.
Seandainya kita menyadarinya sejak semula kita akan menjalani hidup ini dengan cara yang jauh berbeda.
Renungkan bahwa kita adalah si tukang kayu. Renungkan rumah yang sedang kita bangun. Setiap hari kita memukul paku, memasang papan, mendirikan dinding dan atap. Mari kita selesaikan rumah kita dengan sebaik-baiknya seolah-olah hanya mengerjakannya sekali saja dalam seumur hidup. Biarpun kita hanya hidup satu hari, maka dalam satu hari itu kita pantas untuk hidup penuh keagungan dan kejayaan. Apa yang bisa diterangkan lebih jelas lagi. Hidup
kita esok adalah akibat sikap dan pilihan yang kita perbuat hari ini. Hari perhitungan adalah milik Tuhan, bukan kita, karenanya pastikan kita pun akan masuk dalam barisan kemenangan.
Sumber : resensi.net



Disuatu sore hari pada saat aku pulang kantor dengan mengendarai sepeda motor, aku disuguhkan suatu drama kecil yang sangat menarik, seorang anak kecil berumur lebih kurang sepuluh tahun dengan sangat sigapnya menyalip disela-sela kepadatan kendaraan disebuah lampu merah perempatan jalan di Jakarta .
Dengan membawa bungkusan yang cukup banyak diayunkannya sepeda berwarna biru muda, sambil membagikan bungkusan tersebut ,ia menyapa akrab setiap orang, dari Tukang koran , Penyapu jalan, Tuna wisma sampai Pak polisi.
Pemandangan ini membuatku tertarik, pikiran ku langsung melayang membayangkan apa yang diberikan si anak kecil tersebut dengan bungkusannya, apakah dia berjualan ? “kalau dia berjualan apa mungkin seorang tuna wisma menjadi langganan tetapnya atau…??, untuk membunuh rasa penasaran ku, aku pun membuntuti si anak kecil tersebut sampai disebrang jalan , setelah itu aku langsung menyapa anak tersebut untuk aku ajak berbincang-bincang. De, “boleh kakak bertanya” ? silahkan kak, kalau boleh tahu yang barusan adik bagikan ketukang koran, tukang sapu, peminta-minta bahkan pak polisi, itu apa ?, oh… itu bungkusan nasi dan sedikit lauk kak, memang kenapa kak!, dengan sedikit heran , sambil ia balik bertanya. Oh.. tidak! , kakak Cuma tertarik cara kamu membagikan bungkusan itu, kelihatan kamu sudah terbiasa dan cukup akrab dengan mereka. Apa kamu sudah lama kenal dengan mereka?
Lalu ,Adik kecil ini mulai bercerita, “Dulu ! aku dan ibuku sama seperti mereka hanya seorang tuna wisma ”,setiap hari bekerja hanya mengharapkan belaskasihan banyak orang, dan seperti kakak ketahui hidup di Jakarta begitu sulit, sampai kami sering tidak makan, waktu siang hari kami kepanasan dan waktu malam hari kami kedinginan ditambah lagi pada musim hujan kami sering kehujanan, apabila kami mengingat waktu dulu, kami sangat-sangat sedih , namun setelah ibu ku membuka warung nasi, kehidupan keluarga kami mulai membaik.
Maka dari itu ibu selalu mengingatkanku, bahwa masih banyak orang yang susah seperti kita dulu , jadi kalau saat ini kita diberi rejeki yang cukup , kenapa kita tidak dapat berbagi kepada mereka.
Yang ibu ku selalu katakan “ hidup harus berarti buat banyak orang “, karena pada saat kita kembali kepada Sang Pencipta tidak ada yang kita bawa, hanya satu yang kita bawa yaitu Kasih kepada sesama serta Amal dan Perbuatan baik kita , kalau hari ini kita bisa mengamalkan sesuatu yang baik buat banyak orang , kenapa kita harus tunda.
Karena menurut ibuku umur manusia terlalu singkat , hari ini kita memiliki segalanya, namun satu jam kemudian atau besok kita dipanggil Sang Pencipta,” Apa yang kita bawa”?. Kata-kata adik kecil ini sangat menusuk hati ku, saat itu juga aku merasa menjadi orang yang tidak berguna, bahkan aku merasa tidak lebih dari seonggok sampah yang tidak ada gunanya,dibandingkan adik kecil ini.
Aku yang selama ini merasa menjadi orang hebat dengan pendidikan dan jabatan tinggi, namun untuk hal seperti ini, aku merasa lebih bodoh dari anak kecil ini, aku malu dan sangat malu. Yah.. Tuhan, Ampuni aku, ternyata kekayaan, kehebatan dan jabatan tidak mengantarku kepada Mu
Terima kasih adik kecil, kamu adalah malaikat ku yang menyadarkan aku dari tidur nyenyak ku.

"Hidup akan berarti jika kita mau membagikan sesuatu untuk orang lain dan tidak hanya fokus untuk menyenangkan diri kita sendiri "

Sumber : resensi.net



peluk.jpgSuatu sore, seorang anak menghampiri ibunya di dapur. Ia menyerahkan selembar kertas yang telah ditulisinya. Setelah sang ibu mengeringkan tangannya dengan celemek. Ia pun membaca tulisan itu dan inilah isinya:
Untuk memotong rumput Rp. 5000
Untuk membersihkan kamar tidur minggu ini Rp. 5000
Untuk pergi ke toko disuruh ibu Rp. 3000
Untuk menjaga adik waktu ibu belanja Rp. 5000
Untuk membuang sampah Rp. 1000
Untuk nilai yang bagus Rp. 3000
Untuk membersihkan dan menyapu halaman Rp. 3000
Jadi jumlah utang ibu adalah Rp. 25000
Sang ibu memandangi anaknya dengan penuh harap. Berbagai kenangan terlintas dalam benak sang ibu. Lalu ia mengambil pulpen, membalikkan kertasnya. Dan inilah yang ia tuliskan:

Untuk sembilan bulan ibu mengandung kamu, gratis
Untuk semua malam ibu menemani kamu, gratis
Untuk membawamu ke dokter dan mengobati saat kamu sakit, serta mendoakan kamu, gratis
Untuk semua saat susah dan air mata dalam mengurus kamu, gratis
Kalau dijumlahkan semua, harga cinta ibu adalah gratis
Untuk semua mainan, makanan, dan baju, gratis
Anakku… dan kalau kamu menjumlahkan semuanya,
Akan kau dapati bahwa harga cinta ibu adalah GRATIS
Seusai membaca apa yang ditulis ibunya, sang anak pun berlinang air mata dan menatap wajah ibunya, dan berkata: “Bu, aku sayang sekali sama ibu” ia kemudian mendekap ibunya. Sang ibu tersenyum sambil mencium rambut buah hatinya.”Ibupun sayang kamu nak” kata sang ibu.
Kemudian sang anak mengambil pulpen dan menulis sebuah kata dengan huruf-huruf besar sambil diperhatikan sang ibu: “LUNAS”
======
Sahabat, seberapapun jasa yang tlah kita berikan kepada ibu, seberapapun uang yang kita dapatkan dan kita berikan kepada ibu, atau seberapapun liter keringat kerja yang kita kumpulkan untuk ibu, tidak akan dapat mengganti kasih sayang seorang ibu.Kasih ibu sepanjang masa. dapatkah kita menukar kasih sayang ibu itu dengan materi? menukar dengan bilangan angka?atau menukar dengan rangkaian kata terima kasih? Tidak sahabat, sama sekali tidak bisa. Oleh karenanya sahabatqu, Berbuat baiklah kepadanya, sayangilah beliau, cintailah beliau, dan doakanlah beliau….
Sumber : resensi.net